NASA Ungkap Fakta Mengejutkan: Api Kebakaran Indonesia Menyala di Bawah Tanah dan Sulit Padam
JAKARTA, iNews.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia ternyata menyimpan ancaman yang tidak selalu terlihat dari permukaan. NASA mengungkap fakta terkait insiden besar ini.
Menurut NASA, kebakaran di kawasan gambut dapat terus membara di bawah tanah, menyebar melalui lapisan gambut yang kering, dan sulit dipadamkan hingga hujan kembali turun.
Fenomena ini menjadi perhatian di tengah musim kebakaran Indonesia 2026 yang berlangsung bersamaan dengan kondisi kemarau dan pengaruh El Niño yang kuat.
NASA melalui citra satelit Aqua yang diambil pada 1 September 2026 memperlihatkan aktivitas kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.
Citra tersebut ditangkap instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer), dengan titik-titik merah pada peta menunjukkan lokasi yang terdeteksi memiliki anomali panas yang mengindikasikan kebakaran.
Namun, tidak semua kebakaran dapat dengan mudah terlihat dari luar angkasa. Terutama ketika api sudah masuk ke dalam lapisan gambut.
Lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan vegetasi biasa. Ketika kondisinya basah, lapisan gambut relatif sulit terbakar. Masalah muncul ketika kekeringan membuat kandungan airnya turun secara drastis.
Dalam kondisi tersebut, api dari kebakaran di permukaan dapat merambat ke lapisan gambut dan kemudian terus membara di bawah tanah.
NASA menyebut kebakaran gambut dikenal sebagai kebakaran yang berjalan lambat, sangat menghasilkan polusi, dan terkenal sulit dipadamkan karena dapat membara pada suhu rendah serta menjalar secara bawah tanah melalui deposit gambut yang luas.
Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, menjelaskan bahwa api yang sudah masuk ke bawah tanah memiliki karakter yang jauh lebih sulit dikendalikan.
"Kebakaran permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, namun begitu api merambat ke bawah tanah, api tersebut tak kunjung padam," kata Field dikutip dari laman resmi NASA, Jumat (4/9/2026).
Artinya, persoalan bukan lagi sekadar api yang terlihat menjalar di permukaan. Di bawah tanah, lapisan gambut yang kering dapat menjadi bahan bakar yang memungkinkan api terus membara.
Field bahkan mengatakan api semacam ini dapat terus bertahan sampai hujan datang.
"Api akan terus menyala hingga hujan turun pada bulan Oktober atau November," ujarnya.
Salah satu masalah terbesar adalah api di bawah tanah tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Di permukaan, sebuah kawasan mungkin tampak hanya mengeluarkan asap tipis atau bahkan tidak menunjukkan kobaran api besar. Namun, di bawahnya proses pembakaran masih dapat berlangsung.
Kondisi ini membuat pemadaman jauh lebih rumit dibandingkan kebakaran permukaan biasa.
Gambut yang mengering juga dapat menjadi bahan bakar dalam jumlah besar. Api kemudian bisa bergerak melalui lapisan gambut dan muncul kembali di lokasi yang berbeda.
Inilah yang membuat kebakaran gambut dapat menjadi sangat sulit diprediksi dan dikendalikan.
Ancaman tersebut menjadi semakin serius pada 2026 karena Indonesia sedang menghadapi kondisi kering yang luas.
NASA mencatat sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami sedikit atau bahkan tidak mendapat hujan pada awal Agustus 2026, berdasarkan data badan meteorologi Indonesia.
Padahal, dalam kondisi normal, kawasan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua cenderung terlalu basah untuk memungkinkan api menjalar jauh ke lapisan gambut bawah tanah.
Kekeringan mengubah kondisi tersebut. Ya, ketika muka air tanah turun dan gambut mengering, material organik yang sebelumnya terlindungi oleh kondisi basah berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Situasi ini diperburuk oleh fenomena El Niño. NASA menyebut El Niño yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di wilayah Indonesia yang rawan kebakaran.
Fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) yang juga berlangsung turut memperburuk kondisi kering tersebut.
Kondisi saat ini mengingatkan pada musim kebakaran besar 2015.
Robert Field mengatakan aktivitas kebakaran Indonesia pada awal musim kebakaran 2026 mengalami peningkatan tajam dan mulai menunjukkan pola yang serupa dengan 2015.
"Indonesia baru memasuki sekitar tiga minggu musim kebakaran, namun kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, serupa dengan kondisi tahun 2015," kata Field.
Pada 2015, kebakaran Indonesia berlangsung selama lebih dari tiga bulan dan menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca.
Sementara itu, hingga 2 September 2026, kebakaran yang telah berlangsung sekitar satu bulan diperkirakan sudah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari jumlah yang dilepaskan dalam kebakaran 2015.
Angka tersebut menunjukkan betapa cepat dampak kebakaran dapat membesar ketika musim kemarau berlangsung dalam kondisi ekstrem.
Editor: Muhammad Sukardi