Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Breaking News: MA Nyatakan Suket Penyetaraan Ijazah SMA Gibran Tidak Sah
Advertisement . Scroll to see content

PDRN Tak Lagi Identik dengan DNA Salmon, Kini Ada yang Berasal dari Tumbuhan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:05:00 WIB
PDRN Tak Lagi Identik dengan DNA Salmon, Kini Ada yang Berasal dari Tumbuhan
Ilustrasi peneliti terkait skincare baru. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Polydeoxyribonucleotide (PDRN) selama ini dikenal sebagai salah satu bahan aktif yang banyak digunakan dalam dunia perawatan kulit, terutama karena dikaitkan dengan DNA salmon. Namun, perkembangan teknologi bahan baku kini membuka peluang pemanfaatan PDRN yang berasal dari tumbuhan sebagai alternatif dalam produk perawatan kulit.

PDRN merupakan fragmen DNA yang banyak dibicarakan dalam industri kecantikan karena potensinya dalam mendukung perawatan kulit. Bahan aktif ini semakin dikenal seiring berkembangnya perawatan estetika, termasuk prosedur injeksi.

Meski demikian, anggapan bahwa PDRN hanya bisa diperoleh dari DNA salmon mulai bergeser. Teknologi pengolahan bahan baku memungkinkan fragmen DNA dari sumber tumbuhan dikembangkan menjadi bahan aktif untuk produk skincare topikal.

Dokter kecantikan, dr. Gio, menjelaskan bahwa anggapan PDRN hanya memberikan manfaat melalui injeksi tidak sepenuhnya tepat. Menurut dia, sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi penggunaan PDRN dalam sediaan topikal atau produk perawatan kulit.

"Merupakan mitos dan tidak sepenuhnya benar jika PDRN dianggap hanya efektif melalui injeksi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa PDRN dalam sediaan topikal atau produk skincare juga memiliki potensi manfaat untuk perawatan kulit," jelas dr. Gio dalam konten edukasinya, dikutip Jumat (30/10/2026).

Perkembangan teknologi bahan aktif juga memungkinkan PDRN tidak hanya bersumber dari hewan. Dokter Cecillia Young menjelaskan, PDRN berbasis tumbuhan dapat diolah melalui teknologi tertentu hingga menghasilkan fragmen DNA berukuran kecil yang kemudian diformulasikan untuk skincare.

"Tapi, teknologi sekarang semakin maju. Ada PDRN tumbuhan yang diolah jadi fragmen DNA berukuran kecil dan bisa diformulasikan untuk skincare," jelas dr. Cecillia.

Kehadiran PDRN berbasis tumbuhan turut memperluas pilihan bahan baku dalam industri kecantikan. Selain menjadi alternatif dari sumber hewani, pengembangan ini juga berkaitan dengan tren ethical beauty, yakni perhatian terhadap proses dan asal bahan yang digunakan dalam produk perawatan kulit.

Meski begitu, sumber bahan baku bukan satu-satunya faktor yang menentukan manfaat skincare. Ukuran fragmen, proses pengolahan, stabilitas bahan, konsentrasi, hingga formulasi produk turut memengaruhi bagaimana suatu bahan aktif bekerja pada kulit.

Hal ini penting karena penggunaan bahan aktif dalam produk oles memiliki karakteristik berbeda dengan prosedur injeksi. Kemampuan suatu bahan menembus lapisan kulit dan memberikan manfaat perlu dilihat berdasarkan formulasi serta bukti penelitian yang mendukungnya.

Dalam perkembangannya, PDRN berbasis tumbuhan mulai dikombinasikan dengan bahan aktif lain untuk menjawab kebutuhan kulit yang berbeda. Misalnya, kombinasi dengan beta-glucan dan panthenol yang ditujukan untuk membantu menjaga hidrasi serta merawat lapisan pelindung kulit atau skin barrier.

Ada pula formulasi yang memadukan PDRN cica dengan azeloglicina atau Potassium Azeloyl Diglycinate (PAD) dan allantoin. Kombinasi tersebut dikembangkan untuk membantu merawat kulit berminyak, kusam, serta tampilan warna kulit yang tidak merata.

Inovasi penggunaan PDRN nabati ini juga mulai diperkenalkan oleh pelaku industri skincare lokal, salah satunya Glamazing, brand perawatan kulit asal Malang yang menghadirkan dua formulasi moisturizer berbasis PDRN tumbuhan.

Chief Marketing Officer Glamazing, Yudrika Azka, mengatakan pengembangan bahan aktif tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi skincare yang memperhatikan asal bahan baku sekaligus kebutuhan kulit konsumen.

"Kami percaya inovasi skincare tidak harus mengorbankan nilai ethical untuk menghasilkan produk yang tetap efektif," kata Yudrika. 

"Melalui PDRN berbasis tumbuhan, kami ingin menghadirkan alternatif bahan baku yang lebih sejalan dengan prinsip tersebut. Namun, yang terpenting bukan hanya dari mana bahan itu berasal, melainkan bagaimana keseluruhan formulanya mampu memberikan manfaat sesuai kebutuhan kulit konsumen," ujar Yudrika.

Dia menambahkan, pengembangan produk juga perlu mempertimbangkan tujuan formulasi agar konsumen mendapatkan produk yang nyaman digunakan dan sesuai dengan kebutuhan kulit.

"Bagi kami, ethical innovation bukan sekadar memilih bahan baku alternatif. Kami juga ingin memastikan bahwa setiap produk dikembangkan dengan tujuan formulasi yang jelas. Karena pada akhirnya, konsumen membutuhkan skincare yang tidak hanya sejalan dengan nilai yang mereka percaya, tetapi juga nyaman digunakan dan memberikan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan," tuturnya.

Kendati demikian, konsumen tetap perlu mencermati kandungan, fungsi, serta bukti keamanan dan efektivitas suatu produk sebelum menggunakannya. Label berbahan tumbuhan atau plant-based tidak otomatis menjamin produk lebih aman maupun lebih efektif.

Pada akhirnya, pemilihan skincare sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan kulit, bukan semata-mata mengikuti tren bahan aktif yang sedang populer.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut