Penemuan Tak Terduga! Madu Lebah Asli Indonesia Ini Mengandung Antikanker
JAKARTA, iNews.id – Madu selama ini dikenal sebagai bahan alami yang kaya manfaat kesehatan. Namun, siapa sangka di balik manisnya madu lebah tanpa sengat (stingless bee) asal Indonesia ternyata tersimpan mikroorganisme yang berpotensi menjadi terobosan baru di bidang pangan dan kesehatan.
Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengidentifikasi bakteri asam laktat probiotik dari madu dan bee pollen lebah tanpa sengat yang memiliki berbagai aktivitas biologis penting.
Bakteri tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan sebagai probiotik, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antioksidan, antikanker, hingga potensi membantu pengendalian kadar gula darah.
Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan pangan fungsional dan nutribiotik berbasis keanekaragaman hayati Indonesia yang selama ini belum banyak dieksplorasi secara mendalam.
Penelitian dilakukan oleh tim dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN dengan menggandeng peneliti dari UGM. Mereka memanfaatkan madu dan bee pollen yang berasal dari tujuh spesies lebah tanpa sengat yang hidup di wilayah Yogyakarta dan Sumbawa.
Peneliti PRTPP BRIN, Ema Damayanti, menjelaskan bahwa madu lebah tanpa sengat selama ini memang dikenal kaya akan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, keberadaan mikroorganisme probiotik yang hidup di dalam madu dan bee pollen masih relatif jarang diteliti, khususnya di Indonesia.
"Kami menemukan bahwa madu lebah tanpa sengat Indonesia menyimpan bakteri asam laktat yang tidak hanya mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antikanker, dan antioksidan yang sangat baik," ujar Ema dalam keterangan resmi BRIN, Senin (8/6/2026).
"Ini menunjukkan potensinya sebagai kandidat probiotik untuk pangan fungsional," tambahnya.
Dalam riset tersebut, tim berhasil mengisolasi sejumlah bakteri asam laktat dari madu dan bee pollen berbagai spesies lebah tanpa sengat, antara lain Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Tetragonula clypearis, Tetragonula sarawakensis, Lepidotrigona terminata, Tetragonula drescheri, dan Tetragonula biroi.
Dari berbagai isolat yang diperoleh, tujuh isolat terbaik kemudian dipilih berdasarkan kemampuannya menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang berpotensi menyebabkan penyakit.
Untuk mengungkap identitas dan karakteristik mikroorganisme tersebut secara lebih mendalam, para peneliti memanfaatkan teknologi mutakhir berupa whole genome sequencing (WGS), analisis metabolomik berbasis Ultra High Performance Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (UHPLC-HRMS), serta berbagai pengujian karakter probiotik lainnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa isolat unggulan tersebut teridentifikasi sebagai Lacticaseibacillus rhamnosus dan Pediococcus acidilactici, dua spesies bakteri yang dikenal memiliki potensi besar dalam dunia probiotik.
Tak berhenti sampai di situ, serangkaian pengujian laboratorium menunjukkan bahwa bakteri hasil isolasi mampu menghambat pertumbuhan sejumlah bakteri patogen berbahaya, termasuk Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa.
Menariknya, bakteri tersebut juga mampu mencegah pembentukan biofilm, yaitu lapisan pelindung yang sering digunakan bakteri untuk bertahan hidup dan meningkatkan resistensi terhadap pengobatan antibiotik. Kemampuan antibiofilm ini menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian para peneliti karena dapat membantu mengatasi tantangan resistensi antimikroba yang semakin meningkat di seluruh dunia.
Temuan lain yang tak kalah penting adalah aktivitas antikanker yang ditunjukkan oleh bakteri probiotik tersebut terhadap lini sel kanker kolon WiDr. Selain itu, bakteri juga memperlihatkan aktivitas antioksidan tinggi berdasarkan pengujian DPPH, ABTS, dan FRAP.
"Kami juga menemukan aktivitas penghambatan α-amilase yang cukup signifikan. Potensi ini menarik karena berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah, sehingga berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan sehat," kata Ema.
Untuk memahami mekanisme biologis yang mendasari manfaat tersebut, tim peneliti melakukan analisis genom lanjutan. Hasilnya mengungkap keberadaan biosynthetic gene clusters (BGCs), yaitu kelompok gen yang berperan dalam produksi berbagai senyawa bioaktif seperti bakteriosin dan senyawa antimikroba alami.
Sementara itu, analisis metabolomik berhasil mengidentifikasi beragam metabolit bioaktif yang mendukung aktivitas kesehatan dari bakteri tersebut. Integrasi pendekatan genomik dan metabolomik dinilai menjadi langkah penting untuk memahami secara lebih komprehensif bagaimana probiotik lokal Indonesia bekerja pada tingkat molekuler.
Menurut Ema, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas lebah tanpa sengat yang sangat besar dan belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan maupun industri kesehatan.
"Indonesia memiliki keanekaragaman hayati lebah tanpa sengat yang sangat besar. Potensi ini tidak hanya penting bagi ketahanan pangan dan biodiversitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri pangan fungsional dan kesehatan berbasis riset," jelasnya.
Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Antonie van Leeuwenhoek dan International Microbiology. Selain itu, hasil riset juga telah memperoleh pendaftaran paten dengan nomor S00202605018.
Ke depan, tim peneliti BRIN akan melanjutkan penelitian pada tahap formulasi produk serta pengujian aplikasi pada pangan fermentasi dan suplemen probiotik. Berbagai penelitian lanjutan juga diperlukan untuk memastikan keamanan, stabilitas, serta efektivitas bakteri tersebut sebelum dapat dimanfaatkan secara luas dalam skala industri.
Editor: Muhammad Sukardi