Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke Barat! BMKG Ungkap Wilayah yang Berpotensi Terdampak
Advertisement . Scroll to see content

Pergi ke Mana Abu Vulkanik Anak Krakatau setelah Menjauh dari Pulau Jawa? Ini Penjelasannya

Selasa, 08 September 2026 - 10:16:00 WIB
Pergi ke Mana Abu Vulkanik Anak Krakatau setelah Menjauh dari Pulau Jawa? Ini Penjelasannya
Gunung Anak Krakatau. (Foto: Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.idAbu vulkanikGunung Anak Krakatau sempat menyelimuti sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra hingga mengganggu penerbangan.

Namun, ketika arah angin berubah dan sebaran abu mulai menjauh dari daratan, muncul pertanyaan menarik, ke mana sebenarnya abu vulkanik Anak Krakatau pergi setelah meninggalkan Pulau Jawa?

Jawabannya, abu vulkanik tidak benar-benar hilang begitu saja.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian sebaran abu Gunung Anak Krakatau memang terdorong menjauh dari wilayah Indonesia menuju Samudra Hindia. Namun, perjalanan setiap partikel abu bisa berbeda-beda, bergantung pada ukuran material, kekuatan erupsi, hingga arah angin di berbagai lapisan atmosfer.

Data BMKG pada 7 September 2026 menunjukkan, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau ke arah barat.

Pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer, abu meluas ke arah barat daya hingga barat laut. Sebarannya mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat dan selatan, Lampung, Bengkulu, hingga perairan sekitarnya.

Sementara itu, pada lapisan yang lebih tinggi hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer, abu vulkanik teramati lebih jauh di Samudra Hindia sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten. BMKG menyebut sebaran tersebut telah bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

Abu Tidak Hilang, tetapi Terus Melakukan Perjalanan

Edukator Mitigasi Bencana Daryono Perwira Sakti menjelaskan, arah dan seberapa jauh abu vulkanik terbang sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni kekuatan letusan dan arah angin.

Saat gunung mengalami erupsi kuat, abu yang berukuran sangat halus dapat terlontar hingga mencapai lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Di lapisan tersebut, angin yang lebih kencang dapat membawa partikel ringan melayang jauh sebelum akhirnya kembali turun ke permukaan.

"Kemana arah abu terbang? Arah dan jauhnya sebaran abu sangat bergantung pada dua hal: seberapa kuat letusan gunung dan ke mana angin bertiup," ujar Daryono dalam keterangan resminya di X, dikutip Selasa (8/9/2026).

Penjelasan tersebut sejalan dengan kajian United States Geological Survey (USGS). Lembaga tersebut menjelaskan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi faktor utama dalam menentukan pola penyebaran abu vulkanik di atmosfer. Menariknya, arah angin dapat berubah seiring bertambahnya ketinggian.

Artinya, abu yang berada di lapisan atmosfer bawah belum tentu bergerak ke arah yang sama dengan abu yang terlontar hingga puluhan ribu kaki.

Hal inilah yang terlihat dalam kasus Anak Krakatau. Sebagian abu masih terdeteksi di wilayah sekitar Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu, sementara abu pada lapisan atmosfer lebih tinggi sudah terdorong jauh ke arah barat hingga barat daya menuju Samudra Hindia.

Partikel Besar Jatuh Lebih Cepat, yang Halus Bisa Terbang Jauh

Perjalanan abu vulkanik juga sangat ditentukan oleh ukuran partikelnya.

Abu vulkanik sendiri bukan sekadar debu seperti sisa pembakaran. USGS menjelaskan, abu vulkanik terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik dengan ukuran yang beragam. Material tersebut kemudian dapat tersebar luas karena terbawa angin.

Partikel yang lebih besar dan berat cenderung lebih cepat jatuh akibat gravitasi. Sebaliknya, partikel yang sangat kecil dapat bertahan lebih lama di atmosfer dan terbawa angin dalam jarak yang jauh.

Dengan demikian, ketika awan abu Anak Krakatau mulai menjauh dari Pulau Jawa, nasib setiap partikelnya tidak selalu sama.

Sebagian bisa jatuh kembali sebagai hujan abu di daratan. Sebagian lainnya dapat mengendap di laut. Ada pula partikel yang terus terbawa angin menuju wilayah yang lebih jauh sebelum akhirnya turun ke permukaan.

Menurut USGS, pola dan ketebalan endapan abu dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain ukuran awal partikel, tinggi kolom erupsi, laju dan durasi letusan, serta kondisi angin. Secara umum, endapan abu juga semakin menipis seiring bertambahnya jarak dari gunung api.

Dengan kata lain, perjalanan abu Anak Krakatau dapat digambarkan sebagai sebuah siklus.

Gunung meletus, abu terlontar ke atmosfer, terbawa angin, bergerak mengikuti dinamika cuaca, lalu perlahan mengendap kembali di daratan maupun perairan.

Mengapa Abu Bisa Bergerak ke Arah Berbeda?

Daryono menjelaskan, semakin kuat sebuah letusan, semakin tinggi pula kemungkinan abu halus terlempar ke lapisan udara atas.

"Di sana, angin kencang akan membawa debu-debu ringan ini melayang jauh hingga puluhan bahkan ratusan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke tanah," katanya.

Karena angin di setiap lapisan atmosfer bisa memiliki arah dan kecepatan berbeda, satu peristiwa erupsi dapat menghasilkan pola sebaran yang kompleks.

USGS bahkan mencatat perubahan arah dan kecepatan angin selama erupsi yang berlangsung lama dapat membuat pola persebaran abu semakin rumit.

Itulah sebabnya, tidak tepat jika seluruh abu Anak Krakatau disebut bergerak ke satu lokasi tertentu.

Abu yang berada di ketinggian rendah bisa menuju satu arah, sementara abu yang berada jauh lebih tinggi dapat mengikuti jalur angin yang berbeda.

Untuk saat ini, data BMKG menunjukkan bagian sebaran abu pada lapisan atmosfer tinggi telah bergerak ke arah barat hingga barat daya menuju Samudra Hindia dan menjauhi wilayah Indonesia. Namun, kondisi tersebut tetap dapat berubah mengikuti dinamika angin dan aktivitas erupsi berikutnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut