Rahasia di Balik Tebalnya Atmosfer Bulan Saturnus

Dini Listiyani ยท Kamis, 31 Januari 2019 - 05:50 WIB
Rahasia di Balik Tebalnya Atmosfer Bulan Saturnus

Titan (Foto: NASA)

CALIFORNIA, iNews.id - Atmosfer bulan terbesar Saturnus, Titan telah lama menarik perhatian para ilmuwan. Kini, para peneliti membeberkan lebih banyak rahasia soal atmosfer tebal Titan.

Sebuah studi baru oleh Southwest Research Institute diterbitkan di Astrophysical Journal mengungkapkan, Titan mungkin 'memasak' material organik di bagian dalamnya, sehingga menghasilkan atmosfer yang sangat tebal.

Menurut Dr. Kelly Miller, penulis utama studi dan ilmuwan penelitian di SwRI's Space Science and Engineering Division, Bulan Saturnus merupakan satu-satunya satelit alami di tata surya dengan atmosfer sangat tebal. Titan juga satu-satunya benda di tata surya selain Bumi yang mengandung banyak cairan di permukaannya, tapi bukan berupa air melainkan hidrokarbon cair.

"Banyak kimia organik tidak diragukan lagi terjadi di Titan, jadi itu merupakan sumber rasa ingin tahu yang tak terbantahkan," kata Miller dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari IBTimes, Kamis (31/1/2019).

Atmosfer Titan terdiri atas gas nitrogen seperti Bumi. Tapi, jauh lebih padat dan tebal dari atmosfer di planet Bumi. Para ilmuwan sebelumnya berteori es ammonia dari komet diubah menjadi nitrogen yang sekarang membentuk astmosfer Titan.

Namun, studi baru ini membahas misteri yang tak dijawab oleh teori ini, efek material organik kompleks yang membentuk sebagian besar komet. Hal lain yang membuat atmosfer Titan tidak biasa ialah Bulan Saturnus terdiri atas metana sebanyak lima persen.

Gas metana bereaksi cepat, dengan standar astrofisika, untuk membentuk organik yang secara bertahap jatuh ke tanah. Kendati demikian, Titan masih memiliki atmosfer metana yang signifikan, sehingga mencukupi secara konsisten.

Untuk penelitian ini, tim Miller memanfaatkan data dari probe European Space Agency (ESA) Rosseta. Pesawat luar angkasa itu mempelajari 67P/Churyumov-Gerasimenko, komet yang jauh, dan di antara temuannya ialah benda setengah es, seperempat batu, serta seperempat material organik. Dan, material tersebut, yang telah ada sejak masa awal tata surya, bisa menjadi bahan utama pembentukan Titan.

"Komet dan benda primitif di tata surya sangat menarik karena dianggap sebagai blok bangunan sisa tata surya. Tubuh kecil ini bisa dimasukkan ke dalam bodies yang lebih besar, dan material berbatu yang padat serta kaya organik bisa ditemukan di intinya," ujar Miller.

Dengan bantuan data ini, tim Miller menghitung material dalam komet, jika berada di inti Titan, bisa menghasilkan gas yang mirip dengan atmosfernya saat ini. Berdasarkan model termal, gas-gas di atmosfer kemungkinan mencukupi interior toasty Titan.

Sekitar setengah nitrogen atmosfer Titan dan semua metana bisa menjadi hasil dari 'memasak' organik di bagian dalam Bulan Saturnus.

Editor : Dini Listiyani