Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Profil James D Watson, Ilmuwan Penemu Struktur DNA yang Sempat Diboikot Lembaga Riset
Advertisement . Scroll to see content

Rumput Memiliki Bau Khas, Ini Alasannya

Senin, 13 Mei 2019 - 05:01:00 WIB
Rumput Memiliki Bau Khas, Ini Alasannya
Rumput memiliki Bau khas, ini alasannya (Foto: Shutterstock)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Rumput atau lapangan hijau yang baru dipotong memiliki bau yang khas. Namun, sebenarnya tidak banyak yang mengetahui apa yang dicium saat menghirup aroma rumput segar?

Secara kimiawi, bau rumput klasik itu adalah campuran udara dari senyawa berbasis karbon yang disebut green leaf volatiles (GLV). Tumbuhan sering melepas molekul-molekul ini saat dirusak oleh serangga, infeksi, atau kekuatan mekanis seperti mesin pemotong rumput.

Tanaman membuat bentuk GLV yang sedikit berbeda, tergantung pada apa yang terjadi dengan mereka. Dalam sebuah penelitian 2010 yang diterbitkan dalam jurnal Science, ahli ekologi tanaman Ian Baldwin dan rekannya Silke Allmann dari Universitas Amsterdam menemukan, daun tembakau yang bergesekan dengan air liur serangga melepaskan buket yang berbeda dari senyawa yang mudah menguap dibandingkan daun yang ditusuk.

GLV cukup kecil untuk dibawa ke udara dan mengapung ke lubang hidung manusia. Dalam beberapa kasus, mereka bisa dideteksi lebih dari satu mil dari tempat asalnya. Spesies lain, seperti serangga yang memakan tanaman dan pemangsa yang memakan serangga itu, sangat peka terhadap aroma GLV yang berbeda.

Misalnya, Baldwin dan Allmann menemukan serangga pemangsa Geocoris bug tertarik pada GLV yang dikeluarkan oleh tanaman yang dikunyah hama yang disebut tobacco harnworm. Dengan kata lain, aroma spesifik dari tanaman yang terkepung menunjukkan kepada pemangsa ada camilan di dekatnya.

Manusia biasanya tidak memakan rumput atau serangga yang disebutkan di atas. Tapi, GLV yang dilepaskan oleh rumput tidak jauh berbeda dengan tanaman menurut manusia berbau enak. Artinya manusia punya alasan kuat untuk peka terhadap mereka.

"Hampir semua sayuran segar memiliki beberapa buket GLV. Sepanjang sejarah evolusi, kami telah menggunakan informasi itu untuk mengetahui kapan sesuatu matang," kata Baldwin yang dikutip dari Live Science, Senin (13/5/2019).

Sejauh yang diketahui Baldwin, tidak ada yang spesifik untuk rumput yang membuatnya lebih enak dibandingkan tanaman lain. Tapi, manusia cenderung memotongnya, melukai banyak jaringan tanaman sekaligus dan melepaskan awan terkonsentrasi dari GLV.

Dengan lahan sekitar 40 juta hektar di seluruh Amerika Serikat yang berdekatan, memotong sering kali menjadi peluang terbaik untuk menemukan aroma hijau segar. Orang-orang yang tinggal di dekat perkebunan teh di China, kata Baldwin, mungkin mendapatkan perasaan yang sama dari aroma panen teh.

Tumbuhan itu sendiri juga bisa mengenali dan merespons aroma udara ini. Jika buket GLV menunjukkan tanaman tetangga kehilangan puncak berbunga, misalnya, tanaman bisa memindahkan gula dan sumber daya lainnya ke akarnya, serta menjauh dari bunganya.

Editor: Dini Listiyani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut