Samudera Arktik Keluarkan Banyak Karbon Seiring Pemanasan Air, Kok Bisa?
JAKARTA, iNews.id - Samudera Arktik adalah titik awal perubahan iklim. Fakta baru terungkap dari penelitian yang diterbitkan dalam Geophysical Research Letters.
Dalam penelitian itu terungkap aliran air dari Sungai Mackenzie di Kanada menyebabkan lautan melepaskan lebih banyak karbon. Saat lautan memanas, emisi karbon di Arktik akan terus meningkat.
Para ilmuwan memperkirakan Arktik menyerap sebanyak 180 juta metrik ton karbon setiap tahunnya. Jumlah ini tiga kali lipat karbon terpenting di Planet Bumi.
Untuk memahami secara pasti mengapa Arktik mengalami kesulitan, para peneliti yang terlibat dalam penelitian ini mengamati hubungan antara lautan kecil yang dingin dan aliran air dari Sungai Mackenzie yang kaya karbon di Kanada.
Sungai tersebut mengalir ke wilayah Samudera Arktik yang disebut Laut Beaufort, dan gambar yang diambil dari area pertemuan keduanya menunjukkan pusaran air seperti susu di dalam air.
Keluarnya cairan seperti susu ini, kata para peneliti, disebabkan oleh tingginya tingkat karbon dan sedimen yang terperangkap di dalam Sungai Mackenzie. Saat Bumi bercampur dengan Arktik, secara perlahan akan menghangatkannya, menyebabkan lebih banyak lapisan es yang mencair, sehingga meningkatkan emisi karbon di Arktik.
Para peneliti menggunakan simulasi untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang bagaimana kedua perairan ini berinteraksi.
Berdasarkan simulasi tersebut, sungai tersebut memicu pelepasan gas secara intensif di bagian tenggara Laut Beaufort, yang pada dasarnya mengubah skala keseimbangan karbon. Artinya, laut kini melepaskan jumlah bersih CO2 yang diperkirakan sekitar 0,13 metrik ton per tahun, kira-kira sama dengan emisi tahunan dari 28.000 mobil berbahan bakar bensin.
Emisi karbon Arktik bervariasi menurut musim, tapi emisi tersebut jauh lebih besar pada bulan-bulan hangat ketika debit sungai lebih tinggi. Hal ini, kata para ilmuwan, menggambarkan hubungan yang jelas antara keduanya dan menunjukkan mengapa penting untuk menemukan cara untuk menjaga suhu laut agar tidak meningkat lebih jauh.
Editor: Dini Listiyani