Spesies Penguin Baru Ditemukan! Namanya Pygoscelis kerguelensis
JAKARTA, iNews.id - Dunia sains kembali dikejutkan dengan penemuan spesies baru. Kali ini, para ilmuwan mengidentifikasi spesies penguin yang selama ini luput dari perhatian selama lebih dari satu abad.
Penguin tersebut diberi nama ilmiah Pygoscelis kerguelensis. Spesies ini dikenal sebagai southeastern gentoo penguin dan ditemukan di wilayah terpencil Kepulauan Kerguelen, di bagian selatan Samudra Hindia.
Sekilas, penguin tersebut memang tidak terlihat jauh berbeda dari penguin gentoo yang selama ini dikenal. Tubuhnya memiliki ciri khas penguin gentoo dengan bagian punggung berwarna gelap dan bagian bawah tubuh berwarna putih.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan ada sesuatu yang berbeda di balik penampilannya.

Perbedaan itu terungkap melalui analisis genetik dan genom. Para peneliti menemukan bahwa populasi penguin gentoo di Kerguelen memiliki perbedaan genetik yang cukup jelas dibandingkan kelompok gentoo lainnya.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi para ilmuwan untuk mengusulkan pengakuan Pygoscelis kerguelensis sebagai spesies tersendiri. Menurut laporan DOI, studi yang melibatkan peneliti dari berbagai negara itu dipublikasikan dalam jurnal Communications Biology.
Menariknya, penelitian tersebut sekaligus mengubah pemahaman tentang penguin gentoo. Hewan yang sebelumnya dianggap sebagai satu spesies ternyata terdiri dari empat kelompok spesies yang berbeda secara evolusioner.
Keempatnya adalah northern gentoo, southern gentoo, eastern gentoo, serta southeastern gentoo yang kini dikenal sebagai Pygoscelis kerguelensis.
Peneliti menyebut Pygoscelis kerguelensis sebagai cryptic species. Istilah tersebut digunakan untuk spesies yang secara fisik sangat mirip dengan kerabat dekatnya sehingga sulit dibedakan hanya berdasarkan penampilan.
Dalam kasus penguin Kerguelen, perbedaan genetik menjadi petunjuk penting. Para peneliti juga menemukan adanya perbedaan dalam karakteristik tubuh dan suara, meski tidak terlalu mencolok.
Populasi penguin tersebut berkembang dalam kondisi geografis yang relatif terisolasi. Dalam rentang waktu sekitar 300.000 hingga 500.000 tahun, perbedaan lingkungan dan keterbatasan perpindahan antarpopulasi diduga berperan dalam membentuk garis evolusi yang berbeda.
Kepulauan Kerguelen sendiri merupakan wilayah yang sangat terpencil. Lokasinya berada jauh dari daratan berpenghuni dan menjadi salah satu alasan mengapa keanekaragaman hayati di kawasan tersebut relatif sulit diteliti.
Para ilmuwan memperkirakan Pygoscelis kerguelensis juga memiliki hubungan ekologis dengan Pulau Heard. Data pelacakan satelit menunjukkan penguin muda dari Kerguelen dapat bergerak hingga wilayah tersebut untuk mencari makan.
Penemuan ini bukan hanya menambah daftar spesies penguin yang diketahui manusia. Pemisahan empat spesies gentoo juga memiliki implikasi penting bagi upaya konservasi.
Sebab, penelitian tersebut memperkirakan tiga dari empat garis keturunan gentoo berpotensi mengalami kehilangan habitat akibat perubahan iklim. Pygoscelis kerguelensis termasuk salah satu yang menghadapi risiko tersebut karena habitatnya berada di kawasan sub-Antarktika yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Dengan demikian, penemuan Pygoscelis kerguelensis menjadi pengingat bahwa spesies baru tidak selalu ditemukan dalam bentuk hewan yang sama sekali berbeda dari yang sudah dikenal.
Dalam kasus ini, jawabannya justru tersembunyi di dalam DNA.
Setelah lebih dari 100 tahun tanpa penamaan spesies penguin baru, analisis genom akhirnya mengungkap bahwa salah satu populasi yang selama ini dianggap sebagai penguin gentoo ternyata memiliki garis evolusi tersendiri.
Dan kini, penguin dari Kepulauan Kerguelen tersebut memiliki nama sendiri yaitu Pygoscelis kerguelensis.
Editor: Muhammad Sukardi