Tak Bisa Sembarangan! Ini Syarat Ginjal Babi Bisa Ditanam ke Tubuh Manusia
JAKARTA, iNews.id – Ginjal babi mulai dilirik sebagai salah satu solusi untuk mengatasi krisis organ donor. Namun, bukan berarti setiap ginjal babi bisa begitu saja ditanam ke tubuh manusia.
Ada syarat biologis yang sangat ketat agar organ tersebut dapat bertahan di dalam tubuh manusia. Salah satunya adalah ginjal harus berasal dari babi yang telah mengalami rekayasa genetik untuk mengurangi risiko penolakan oleh sistem kekebalan tubuh.
Teknologi tersebut dikenal sebagai xenotransplantasi, yakni transplantasi organ, jaringan, atau sel dari hewan ke manusia. Dalam kasus ginjal babi, ilmuwan berusaha membuat organ tersebut lebih kompatibel dengan tubuh manusia.
Tubuh manusia memiliki sistem kekebalan yang dirancang untuk mengenali benda asing. Ketika ginjal babi biasa masuk ke tubuh manusia, sistem imun dapat segera menganggap organ tersebut sebagai ancaman.
Akibatnya, terjadi serangan kekebalan yang sangat agresif. Pembuluh darah dan sel-sel pada ginjal dapat menjadi sasaran sehingga fungsi organ terganggu bahkan dalam waktu singkat.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar mencari babi dengan ukuran ginjal yang sesuai.
Ginjal tersebut harus dibuat sedekat mungkin dengan karakteristik biologis manusia tanpa menghilangkan fungsi dasarnya sebagai organ babi.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan ilmuwan adalah menggunakan babi Yucatan miniature yang telah mengalami puluhan perubahan pada genomnya.
Dalam kasus transplantasi yang dilakukan terhadap pasien Amerika Serikat, ginjal donor berasal dari babi dengan 69 modifikasi genetik.
Modifikasi tersebut memiliki beberapa tujuan.
Pertama, ilmuwan menghilangkan karakteristik tertentu pada sel babi yang mudah dikenali dan diserang oleh sistem kekebalan manusia.
Kedua, sejumlah materi genetik manusia ditambahkan untuk membantu membuat organ tersebut lebih dapat diterima oleh tubuh penerima.
Ketiga, gen yang berkaitan dengan virus yang tersembunyi di dalam genom babi dinonaktifkan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi potensi risiko infeksi yang dapat muncul setelah transplantasi.
Dengan kata lain, ginjal yang digunakan bukanlah sekadar ginjal babi biasa, melainkan organ yang berasal dari hewan dengan perubahan genetik yang dirancang khusus untuk kebutuhan xenotransplantasi.
Babi memang dianggap sebagai salah satu kandidat hewan yang menjanjikan untuk donor organ karena ukuran organ tubuhnya relatif sesuai dengan manusia.
Selain itu, babi telah lama dibudidayakan sehingga pengembangbiakan dan pemeliharaannya dapat dikontrol.
Namun, kesamaan ukuran tidak otomatis berarti organ tersebut aman ditanamkan ke manusia.
Masalah terbesar justru berada pada perbedaan biologis antara manusia dan babi, terutama bagaimana sistem kekebalan tubuh manusia merespons sel dan jaringan babi.
Karena itu, rekayasa genetik menjadi bagian penting dalam pengembangan xenotransplantasi.
Salah satu bukti perkembangan teknologi ini terlihat dari kasus Tim Andrews, pasien berusia 66 tahun dengan penyakit ginjal stadium akhir akibat diabetes tipe 2.
Pada 25 Januari 2025, Andrews menerima transplantasi ginjal babi yang telah direkayasa secara genetik.
Ginjal tersebut langsung berfungsi setelah ditanamkan dan kemudian mampu bertahan di tubuh Andrews selama 271 hari, menjadi periode terlama yang dilaporkan untuk ginjal babi hasil rekayasa genetik pada manusia.
Meski akhirnya ginjal tersebut gagal dan harus diangkat, kasus ini memberikan informasi penting bagi ilmuwan mengenai kemampuan organ hewan untuk bertahan di tubuh manusia.
Pada awalnya, tanda-tanda penolakan dapat ditangani dengan menyesuaikan obat imunosupresan. Namun, setelah sekitar enam bulan, pembuluh darah ginjal mulai mengalami kerusakan dan organ mengalami peradangan hingga akhirnya kehilangan fungsinya.
Menariknya, pemeriksaan tidak menemukan tanda antibodi menyerang ginjal babi tersebut. Artinya, mekanisme pasti yang menyebabkan kegagalan organ masih menjadi bahan penelitian.
Potensi terbesar teknologi ini bukan hanya menggantikan ginjal manusia secara permanen, tetapi juga menjadi 'jembatan' bagi pasien yang sedang menunggu donor manusia.
Pasien gagal ginjal harus menjalani dialisis secara rutin ketika fungsi ginjalnya sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh. Masalahnya, waktu tunggu untuk mendapatkan donor manusia bisa sangat panjang.
Dalam kasus Andrews, dia sebelumnya diperkirakan harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan ginjal manusia. Ginjal babi kemudian memberinya waktu tambahan sebelum akhirnya menerima ginjal manusia pada Januari 2026.
Kasus tersebut menunjukkan bagaimana xenotransplantasi berpotensi menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pasien terhadap dialisis selama menunggu organ donor yang sesuai.
Meski demikian, teknologi ini masih menghadapi banyak tantangan. Para ilmuwan masih harus memahami bagaimana mencegah penolakan organ dalam jangka panjang, memastikan keamanan dari risiko infeksi, serta menentukan perubahan genetik paling efektif agar organ babi dapat berfungsi lebih lama di dalam tubuh manusia.
Jadi, syarat ginjal babi untuk bisa ditanam ke tubuh manusia bukan sekadar soal ukuran atau kecocokan organ. Ginjal tersebut harus berasal dari hewan yang dikembangkan dengan pengawasan ketat dan melalui rekayasa genetik untuk mengurangi hambatan biologis antara babi dan manusia.
Xenotransplantasi pun masih berada dalam tahap pengembangan. Namun, kemampuan ginjal babi hasil rekayasa genetik untuk berfungsi selama 271 hari menunjukkan bahwa batas antara donor manusia dan hewan mulai bergeser berkat kemajuan bioteknologi.
Editor: Muhammad Sukardi