Tak Cukup Didaur Ulang, Sampah Kampus Perlu Dikelola dengan Cara Ini
JAKARTA, iNews.id - Sampah yang dihasilkan lingkungan kampus tidak cukup ditangani dengan memilah dan mendaur ulang. Pengelolaannya membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari mengurangi sampah sejak sumber, menentukan metode pengolahan sesuai jenis material, hingga memanfaatkan kembali sumber daya yang masih memiliki nilai.
Tantangan tersebut terlihat di Universitas Indonesia (UI), Depok, yang menghasilkan sekitar 5 ton sampah setiap hari. Besarnya volume sampah membuat proses pemilahan, pengelolaan, dan penentuan teknologi pengolahan menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Data dari Direktorat Operasi, Pemeliharaan Fasilitas dan Manajemen Aset (DOPFMA UI) tersebut disampaikan dalam diskusi Jejak Asri On The Move di UI. Forum yang melibatkan Center of Sustainability and Waste Management (CSWM UI), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, dan Kampanye Indonesia Asri itu membahas penerapan ekonomi sirkular sebagai salah satu pendekatan untuk mengatasi persoalan sampah di kampus.
Lantas, bagaimana cara mengelola sampah agar tidak sekadar berakhir di tempat pembuangan?
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah ekonomi sirkular. Konsep ini berupaya mempertahankan nilai material selama mungkin melalui pengurangan penggunaan sumber daya, pemakaian kembali, perbaikan, dan daur ulang.
Dalam sistem ekonomi linear, barang umumnya diproduksi, digunakan, lalu dibuang ketika tidak lagi dibutuhkan. Sebaliknya, ekonomi sirkular mendorong material agar tetap dimanfaatkan sehingga jumlah sampah yang harus dibuang dapat ditekan.
Di lingkungan kampus, penerapannya dapat dimulai dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menyediakan fasilitas pemilahan, serta memisahkan sampah berdasarkan karakteristiknya. Sampah organik, misalnya, berpotensi diolah menjadi kompos apabila memenuhi persyaratan yang diperlukan.
Sementara itu, kertas, logam, dan sejumlah jenis plastik dapat dikumpulkan untuk digunakan kembali atau didaur ulang sesuai kondisi material dan fasilitas pengolahan.
Namun, tidak semua sampah bisa diproses menggunakan metode yang sama. Pemilahan yang tepat menjadi langkah awal untuk menentukan pengolahan yang sesuai, sekaligus mengurangi kontaminasi antarjenis sampah.
Karena itu, konsep ekonomi sirkular tidak hanya berfokus pada teknologi pengolahan, tetapi juga pada upaya mencegah sampah terbentuk dan memastikan material yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung dibuang.
Vice Principal of CSWM UI Adam Febriyanto Nugraha menjelaskan, penerapan ekonomi sirkular di kampus berpotensi meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah sekaligus menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal.
"Penerapan prinsip ekonomi sirkular di kampus tidak hanya berpotensi meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal," kata Adam dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).
Menurut dia, kampus juga dapat menjadi ruang pembelajaran dan inovasi untuk mengembangkan solusi keberlanjutan yang bisa diterapkan di lingkungan lebih luas.
"Lebih jauh, kampus dapat menjadi ruang pembelajaran dan inovasi untuk mengembangkan solusi keberlanjutan yang dapat direplikasi di lingkungan yang lebih luas, sekaligus membangun budaya dan ekosistem ekonomi sirkular yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan," ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, CSWM UI memperkenalkan kerangka Sustainable Social Innovation yang mencakup tujuh aspek, yakni kepemimpinan, regulasi, infrastruktur, finansial, organisasi, teknologi, dan kesadaran.
Ketujuh aspek itu menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup bergantung pada ketersediaan tempat sampah terpilah atau mesin pengolahan. Kebijakan yang jelas, pendanaan, pembagian tanggung jawab, dan keterlibatan masyarakat juga diperlukan agar sistem dapat berjalan secara konsisten.
Sebagai contoh, fasilitas pemilahan tidak akan optimal apabila warga kampus masih mencampurkan sampah. Begitu pula teknologi pengolahan berpotensi tidak efektif jika jenis dan jumlah sampah yang masuk tidak sesuai dengan kapasitas fasilitas.
Artinya, pengelolaan sampah perlu dirancang sebagai sebuah sistem yang menghubungkan kebiasaan pengguna, infrastruktur, teknologi, dan kebijakan.
Selain sistem pengolahan, perubahan perilaku menjadi bagian penting dalam penerapan ekonomi sirkular. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola fasilitas memiliki peran dalam mengurangi sampah serta memastikan pemilahan dilakukan sejak sumbernya.
Keterlibatan mahasiswa dalam diskusi bersama BEM UI menjadi salah satu upaya untuk menggali gagasan yang relevan dengan kondisi kampus. Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Head of Corporate Communication Chandra Asri Group Chrysanthi Tarigan mengatakan, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kesempatan untuk menggali gagasan dan mengembangkan praktik ekonomi sirkular sesuai kebutuhan kampus.
"Kami berharap, langkah ini dapat menumbuhkan partisipasi civitas akademika sekaligus membuka peluang bagi praktik baik yang dapat diterapkan lebih luas untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan," ujar Chrysanthi.
Ke depan, pendekatan yang dibahas melalui Jejak Asri On The Move diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi perguruan tinggi lain. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik sampah, ketersediaan fasilitas, dan kebutuhan masing-masing kampus.
Keberhasilan konsep kampus sirkular pada akhirnya perlu dilihat dari hasil nyata, seperti berkurangnya sampah yang dibuang, meningkatnya material yang dimanfaatkan kembali, serta konsistensi pemilahan dari sumbernya.
Dengan demikian, mengelola sampah bukan sekadar memindahkannya dari tempat satu ke tempat lain atau mendaur ulang material yang masih bisa digunakan. Pendekatan yang lebih menyeluruh diperlukan agar sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal dan beban lingkungan berkurang.
Editor: Muhammad Sukardi