Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Survei Ipsos: Dompet Digital Jadi Gaya Hidup, Promosi-Keamanan Sistem Faktor Kunci
Advertisement . Scroll to see content

81% Orang Khawatir Harga Kebutuhan Pokok Naik, Belanja Akhir Tahun Bakal Direm?

Minggu, 27 September 2026 - 08:51:00 WIB
81% Orang Khawatir Harga Kebutuhan Pokok Naik, Belanja Akhir Tahun Bakal Direm?
Ilustrasi belanja di mal. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Momen akhir tahun biasanya identik dengan meningkatnya aktivitas belanja. Namun, tahun ini konsumen Indonesia diperkirakan akan lebih berhati-hati menentukan ke mana uang mereka dibelanjakan.

Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Data Ipsos Global Consumer Confidence Index menunjukkan, 81% masyarakat Indonesia mengaku khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok pada Agustus 2026.

Kekhawatiran ekonomi lainnya juga ikut meningkat. Persentase masyarakat yang mengkhawatirkan tingkat pengangguran mencapai 45% pada Agustus 2026, naik dari 35% pada April 2026.

Situasi tersebut membuat konsumen perlu lebih selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran. Artinya, bukan berarti masyarakat berhenti berbelanja, tetapi keputusan membeli dapat menjadi lebih penuh pertimbangan.

Kepercayaan Diri Naik, Kekhawatiran Belum Hilang

Menariknya, kekhawatiran tersebut muncul ketika tingkat kepercayaan konsumen Indonesia justru mengalami perbaikan.

Pada Agustus 2026, Consumer Confidence Index Indonesia tercatat 53,9, menempatkan Indonesia di peringkat kelima dari 30 negara yang diukur. Posisi tersebut naik dari peringkat ke-10 pada Juli.

Ipsos Growth Forum 2026. (Foto: Istimewa)
Ipsos Growth Forum 2026. (Foto: Istimewa)

Namun, kenaikan peringkat itu perlu dilihat dalam konteks. Perubahan posisi Indonesia juga dipengaruhi melemahnya sentimen konsumen di sejumlah negara lain.

Dengan demikian, angka tersebut tidak serta-merta berarti konsumen Indonesia sudah sepenuhnya lepas dari tekanan ekonomi. Kekhawatiran mengenai biaya hidup dan kondisi pekerjaan masih menjadi bagian dari pertimbangan mereka.

Managing Director Ipsos Indonesia Hansal Savla mengatakan konsumen Indonesia saat ini cenderung berhati-hati ketika mengeluarkan uang.

"Kami melihat konsumen Indonesia yang tetap berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya. Dalam kondisi seperti ini, brand perlu memahami bahwa pertumbuhan tidak hanya berbicara mengenai seberapa kuat sebuah brand di benak konsumen, tetapi juga bagaimana brand dapat hadir dan tetap relevan ketika konsumen membuat keputusan pembelian," ujar Hansal dalam forum Ipsos Growth Forum 2026, belum lama ini.

Bukan Berarti Konsumen Tak Belanja

Kondisi tersebut tidak otomatis membuat konsumen berhenti membeli produk. Justru, perubahan dapat terlihat dari cara mereka menentukan pilihan.

Ketika anggaran harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, konsumen dapat lebih memperhatikan apakah produk yang diinginkan mudah ditemukan, tersedia dalam pilihan yang sesuai, dan memang dianggap layak dibeli.

Country Service Line Group Director – Brand Health Tracking & Creative Assessment, Ipsos in Indonesia, Lioni Halim, mengatakan terdapat kesenjangan antara brand yang disukai konsumen dengan performa aktualnya di pasar.

"Sering kali terdapat kesenjangan antara preferensi terhadap sebuah brand dengan pangsa pasar yang sebenarnya. Pertumbuhan terjadi ketika brand mampu membangun keinginan konsumen terhadap brand tersebut, sekaligus membuat konsumen lebih mudah untuk membeli melalui faktor-faktor pasar yang tepat," kata Lioni.

Menurut Ipsos, faktor pasar di Indonesia memiliki dampak tiga kali lipat dibandingkan rata-rata global dalam mendorong pertumbuhan.

Distribusi dan assortment bahkan memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan promosi dan harga.

Temuan ini menunjukkan bahwa dalam situasi konsumen yang semakin selektif, keputusan pembelian tidak hanya ditentukan oleh seberapa menarik sebuah produk atau seberapa besar promosi yang ditawarkan.

Produk yang mudah ditemukan dan tersedia sesuai kebutuhan juga memiliki peran dalam menentukan apakah keinginan konsumen akhirnya berubah menjadi transaksi.

Bagaimana dengan Belanja Akhir Tahun?

Dengan 81% masyarakat masih mengkhawatirkan kenaikan harga kebutuhan pokok, konsumen kemungkinan akan memasuki periode belanja akhir tahun dengan pertimbangan yang lebih matang.

Pengeluaran untuk kebutuhan utama berpotensi tetap menjadi prioritas, sementara pembelian lainnya dapat lebih selektif berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing konsumen.

Jadi, pertanyaannya bukan semata-mata apakah masyarakat akan 'mengerem” belanja', melainkan bagaimana mereka mengatur prioritas ketika harus berbelanja di tengah kekhawatiran biaya hidup.

Kondisi inilah yang oleh Ipsos disebut sebagai 'The New Consumer Reality', ketika konsumen tetap memiliki keinginan untuk membeli, tetapi semakin cermat menentukan apa yang benar-benar layak masuk ke dalam keranjang belanja.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut