Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : UMKM yang Ikuti Selera Gen Z Dijamin Laris? Ini Faktanya!
Advertisement . Scroll to see content

Produk Lokal Ingin Tembus Pasar Ekspor? Ini Syarat Wajib Dipenuhi

Selasa, 06 Oktober 2026 - 11:12:00 WIB
Produk Lokal Ingin Tembus Pasar Ekspor? Ini Syarat Wajib Dipenuhi
Produk lokal yang ingin menembus pasar ekspor tidak cukup hanya mengandalkan kualitas, tetapi harus memenuhi beberapa syarat ini. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Produk lokal yang ingin menembus pasar ekspor tidak cukup hanya mengandalkan kualitas. Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perlu memenuhi regulasi, menjaga konsistensi pasokan, serta memahami kebutuhan buyer di negara tujuan.

Fasilitator Ekspor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Dede Saputra mengatakan, pelaku UMKM perlu mengubah pola pikir dari product centric menjadi buyer centric. Artinya, produk yang ditawarkan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan ketentuan pasar yang dituju.

"Produk yang bagus saja tidak cukup. Buyer tidak hanya membeli produk tapi keberlanjutan dan kepatuhan pada regulasi di negaranya. Pengusaha UMKM harus paham bagaimana negara tujuan ekspor memutuskan dalam memilih pemasok," ujar Dede dalam keterengan pers di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Dede menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam sesi Export Bootcamp yang merupakan bagian dari Bootcamp UMKM Untuk Indonesia (UUI) 2026: Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas Membuka Pasar Global.

Menurut Dede, terdapat tiga syarat utama yang perlu diperhatikan UMKM agar produknya lebih siap masuk pasar ekspor, terutama untuk perdagangan Business-to-Business (B2B).

1. Penuhi Regulasi dan Sertifikasi

Pelaku UMKM wajib memahami regulasi dan sertifikasi yang berlaku di negara tujuan. Hal ini penting untuk mencegah berbagai risiko, seperti barang tertahan di bea cukai hingga produk ditarik dari peredaran.

Sebagai contoh, produk pangan yang akan diekspor ke China membutuhkan sertifikat General Administration of Customs of the People's Republic of China (GACC). Sementara produk yang masuk ke Amerika Serikat harus memenuhi standar Food and Drug Administration (FDA).

2. Pastikan Pasokan Produk

Kualitas produk juga harus diikuti kemampuan menjaga pasokan secara berkelanjutan. Pelaku UMKM perlu memastikan ketersediaan stok, menjalankan standar operasional perusahaan (SOP), serta mempertahankan kualitas produk secara konsisten.

Kesiapan tersebut menjadi penting ketika mengikuti pameran internasional atau business matching. Pelaku usaha tidak hanya harus membawa sampel produk, tetapi juga mampu memenuhi permintaan buyer dalam jangka panjang.

"Jangan sampai saat diajak oleh Kemendag atau Bank Indonesia dalam ajang seperti Trade Expo Indonesia (TEI), kita hanya jadi penghibur. Harus siap segala macamnya," ujar Dede.

3. Jelaskan Kapasitas Produksi

Dalam transaksi B2B, buyer biasanya menghitung kebutuhan berdasarkan palet atau kontainer, bukan hanya satuan produk. Karena itu, UMKM harus mampu menjelaskan harga, kapasitas produksi bulanan, kemampuan mesin, jumlah tenaga kerja, manajemen pasokan hingga biaya pengiriman.

Transparansi informasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pemilihan pemasok. Pelaku usaha juga perlu menetapkan minimum order quantity (MOQ) yang jelas dan realistis.

Selain memenuhi ketiga syarat tersebut, pelaku UMKM perlu melakukan validasi pasar sebelum menentukan negara tujuan ekspor. Caranya antara lain dengan mempelajari produk Indonesia yang memiliki permintaan tinggi, karakter konsumen, tren pertumbuhan serta calon pembeli di pasar tersebut.

Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan informasi dari Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dan Atase Perdagangan (Atdag) untuk memahami peluang pasar di berbagai negara.

"Siapa pembeli terbesar, bagaimana tren pertumbuhan suatu produk, karakter produk seperti apa, termasuk mapping Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dan Atase Perdagangan (Atdag) yang bisa membantu ekspor," ujar Dede.

Saat ini, sejumlah produk UMKM Indonesia yang memiliki permintaan di pasar global antara lain kopi, cokelat dan sepatu olahraga.

Dede juga mengingatkan pelaku UMKM agar menghindari sejumlah kesalahan saat menyiapkan produk untuk pasar ekspor. Materi promosi harus disesuaikan dengan negara tujuan dan sebaiknya menggunakan bahasa yang dipahami calon buyer.

"Jangan buat profil perusahaan dalam bahasa Indonesia ketika mengincar pasar ekspor," ujar Dede.

Pelaku usaha juga diminta tidak mencantumkan klaim kapasitas produksi yang tidak sesuai kondisi sebenarnya. Informasi mengenai kemampuan produksi harus disampaikan secara realistis agar buyer memperoleh gambaran yang jelas.

Selain itu, UMKM perlu memperhatikan perbedaan zona waktu dengan buyer luar negeri sehingga komunikasi dapat dilakukan secara responsif dan profesional. Kesiapan tersebut menjadi modal penting agar produk lokal tidak hanya berhasil mendapatkan buyer, tetapi juga mampu mempertahankan kerja sama dalam jangka panjang.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut