Eksotisme Danau Tolire, Bentuknya Unik Mirip Loyang Raksasa

Vien Dimyati ยท Sabtu, 17 Agustus 2019 - 18:01 WIB
Eksotisme Danau Tolire, Bentuknya Unik Mirip Loyang Raksasa

Keindahan Danau Tolire (Foto : Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Tak sekadar indah, danau yang terletak di sebelah selatan Gunung Gamalama ini juga sarat dengan cerita legenda dan mitos. Namanya Danau Tolire.

Danau ini berada di bawah kaki Gunung Gamalama, gunung api tertinggi di Maluku Utara. Ada dua Danau Tolire, masyarakat setempat menyebutnya Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil, jarak antara keduanya sekitar 200 meter.

Danau Tolire Besar berbentuk seperti Loyang raksasa dan memiliki luas sekitar lima hektare, sedangkan kedalamannya belum diketahui pasti. Masyarakat setempat meyakini jika danau tersebut sangat dalam. Berada di danau ini, Anda akan disuguhi panorama alam yang indah nan asri. Di sekitarnya tumbuh berbagai macam pohon yang membuat udara menjadi sejuk. Ditambah, suara kicauan burung yang saling bersautan.

Ada satu keunikan yang menjadi daya tarik wisata danau ini. Selain memiliki air yang berwarna hijau saat musim panas dan cokelat saat musim hujan, permukaan air di Danau Tolire tidak terdapat gravitasi. Di danau ini, Anda akan menjumpai banyak sekali satwa yang tinggal di habitat aslinya. Masyarakat setempat benar–benar menjaga dan tidak berani memburu semua satwa yang ada disini.

Terbentuknya danau ini tak lepas dari legenda masyarakat setempat, ada yang menyebut, jika Danau Tolire muncul karena cinta terlarang antara seorang ayah dengan anaknya. Sang ayah merupakan pemimpin Desa Soela Takomi, desa yang berada di kaki Gunung Gamalama. Desa ini kemudian dikutuk dan menenggelamkan seluruh warganya, mereka pun berubah menjadi buaya putih yang menjaga kawasan ini.

Cerita lainnya, Danau Tolire terbentuk dari erupsi Gunung Gamalama yang menenggelamkan Desa Soela Takomi. Maka dari itu, Danau Tolire juga disebut dengan Tolire Gam Jaha yang berarti lubang kampung tenggelam. Selain cerita tersebut, Danau Tolire juga dipercaya sebagai tempat pembuangan harta berharga milik masyarakat Ternate yang dirampas penjajah Portugis.

Ada juga cerita yang mengatakan harta tersebut memang disimpan oleh penduduk supaya tidak dirampas oleh bangsa Portugis waktu itu. Terlepas dari benar atau tidaknya, kisah-kisah tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Danau Tolire tak hanya sekadar menikmati keindahannya. Tapi juga ingin mendengar kisah-kisah tersebut.

"Pesona Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil di Tanah Ibu Pertiwi. Terlepas dari kisah mitos dan legendanya, Danau Tolire adalah danau yang sangat memesona. Ketika sore menjelang, baik Danau Tolire Besar maupun Tolire Kecil akan menjadi tempat sempurna menikmati matahari terbenam dengan latar lautan biru nan indah. Referensi foto: (@shantie_syifa)," tulis Instagram @Indoflashlight, dikutip Sabtu (17/8/2019).

Selain legenda cinta terlarang, Danau Tolire juga memiliki tradisi unik, yaitu Tradisi Lempar Batu. Menurut kepercayaan setempat, jika Anda melemparnya, batu tersebut tidak akan pernah sampai ke permukaan air. Bahkan, Anda tidak akan melihat percikannya. Jadi, sejauh apa pun melempar, Anda tidak dapat melihat di mana letak batu itu jatuh. Uniknya, orang lain yang menemani Anda saat melempar justru bisa melihat di mana batu itu terjatuh. Biasanya tidak jauh dari pinggiran danau atau jatuh di tempat kita melempar.

Secara alamiah, belum bisa dijelaskan bagaimana hal itu terjadi. Besar kemungkinan, karena tidak adanya gravitasi di permukaan air Danau Tolire. Di sekitar danau, anak-anak mengumpulkan batu dari tepi pantai dan menjualnya ke pengunjung yang datang untuk membuktikan apakah mitos melempar batu itu benar atau tidak. Anda bisa membeli batu-batu itu saat di pintu masuk dengan harga Rp5.000 per kantong yang berisi 10 bongkahan batu.

Untuk sampai ke Danau ini, Anda harus berjalan sekitar 10 sampai 20 menit berkendara dengan jarak tempuh 10 kilometer dari pusat kota Ternate. Karena belum ada angkutan umum yang menjangkau danau ini, Anda perlu menyewa mobil dengan tarif sekitar Rp15.000 sampai Rp200.000.


Editor : Vien Dimyati