Gedung Sarekat Islam, Bangunan Antik Sekolah Tan Malaka di Semarang
SEMARANG, iNews.id – Semarang, Jawa Tengah menyimpan banyak tempat sejarah yang bisa dikunjungi sekaligus menimba ilmu sejarah. Salah satunya, Gedung Sarekat Islam.
Gedung Sarekat Islam Semarang di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur terkunci ketika saya kunjungi pagi itu. Untunglah dari sebuah jendela kaca yang pecah, saya masih bisa mengintip bagian dalam gedung berusia seabad ini.
Mimbar tempat bapak-bapak bangsa –dari Tan Malaka sampai Soekarno— berpidato masih di situ. Sang saka merah putih tampak di tengah tiang-tiang kayu yang masih gagah berdiri.
Setelah ditetapkan sebagai cagar budaya, bangunan yang pernah bernama Gedung Rakyat Indonesia dan Balai Muslimin ini sempat dipugar lima tahun silam. Berdiri di atas tanah wakaf, Tan Malaka mendirikan SI School di sini pada 1921.
Dia dijuluki Bapak Republik Indonesia lantaran orang pertama yang menyebut Republik Indonesia dalam bukunya, Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia), yang diterbitkan di Kanton, Tiongkok pada 1925.
“Dalam satu dua hari saja saya sudah memulai dengan kurang lebih 50 murid. Tujuan kami bukan mendidik murid menjadi juru tulis seperti sekolah gouvernement. Karena hampir seluruh murid ialah anak petani, buruh, dan pegawai atau pedagang kecil, yang langsung atau tidak langsung berhubungan erat dengan Sarekat Islam. Murid terus saja mengalir di sekolah kami sampai lebih dari 200 orang. Sore harinya saya adakan kursus sendiri, mendidik murid di kelas lima menjadi guru,” tulis Tan Malaka dalam otobiografinya, ‘Dari Penjara ke Penjara’.
Tan membekali murid-muridnya dengan kemampuan berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain, di samping mengembangkan kegemaran mereka untuk membentuk perkumpulan-perkumpulan. Pengembangan hobi siswa itu antara lain berguna buat mencari dana sekolah rakyat tersebut, misalnya dengan mengamen dari pintu ke pintu rumah dengan berselendang tulisan Rasa Merdeka. Tan Malaka sendiri piawai menggesek biola selama lima tahun (1914-1919) bersekolah guru di Belanda.