Kampung Unik di Majalengka yang Menakutkan, Semua Warga Pergi Tinggalkan Rumah
JAKARTA, iNews.id - Kampung unik di Majalengka selalu menarik untuk dijelajahi. Apalagi jika Anda singgah ke salah satu kampung yang bernama Sidamukti.
Kawasan ini seolah menjadi kampung mati yang menakutkan karena telah ditinggalkan oleh warganya. Kampung Mati ini terletak di Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka.
Lantas mengapa disebut dengan Kampung Mati? Berikut ulasannya dirangkum pada Rabu (28/12/2022).
Idealnya, kampung memiliki warga yang bermukim dan mendiami kawasan tersebut, namun di Kampung mati tak ada seorang pun warga yang tinggal. Jika datang ke sini, yang akan Anda jumpai adalah rumah-rumah rusak dan tak berpenghuni yang dikelilingi oleh tanaman berkayu dan rumput-rumput hijau tumbuh subur.
Kondisi Kampung Mati saat ini
Menurut penuturan Rosid, warga Kampung Mati Majalengka, yang dikutip dari saluran YouTube DenDenny, awal adanya kampung ini berdiri 35 rumah dan warga yang masih bertahan hingga saat ini (2021), hanya tersisa 6 orang saja. Banyak warga yang pindah dan bermukim ke desa tetangga lantaran bencana alam yang kerap terjadi di kampung ini, berupa tanah longsor. Ya, Kampung Mati, Sidamukti ini memang dikelilingi oleh bukit-bukit yang rawan longsor.
Tempat Ziarah
Meskipun Kampung Mati sudah tak banyak penghuni, ternyata banyak masyarakat luar yang datang untuk berziarah di makam seorang Kyai penyebar Islam di daerah tersebut. Setidaknya terdapat empat makam yang ada di kampung tersebut.
Adapun keterangan lain tentang Kampung Sidamukti yang dikutip dari keterangan seorang YouTuber dari akun YouTube BUCIN TV, banyak masyarakat di desa ini yang pindah karena kawasan tersebut menjadi titik pergeseran tanah.
"Desa ini terbengkalai sejak 2012, karena daerah ini rawan longsor dan sering terjadi patahan-patahan atau pergeseran tanah. Pertama kali terjadi di 2001, kemudian terjadi lagi di 2012, sejak itu pemerintah setempat mengimbau warga setempat untuk meninggalkan desa tersebut," kata dia.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh salah seorang warga di Dusun Cigintung, yang akrab disapa Abah Dayat, sekitar 10 tahun yang lalu wilayah tersebut mengalami pergeseran tanah yang masif, sehingga banyak warga yang mengungsi.
"Sudah ada 10 tahun yang lalu kejadiannya, dikarenakan pergeseran tanah. Banyak warga yang pindah ke Cimuncang dan ke kota,” jawab Abah Dayat.
Memang tak banyak hal yang bisa dijumpai di Kampung Mati ini, rumah-rumah dibiarkan terbengkalai dan sebagian rumah yang ada dimanfaatkan sebagai gudang untuk menaruh pupuk yang digunakan untuk berkebun masyarakat sekitar.
Editor: Vien Dimyati