Kaya Budaya dan Kuliner, Asyiknya Kunjungi Desa Wisata Tamansari di Kaki Gunung Kawah Ijen
JAKARTA, iNews.id - Banyuwangi, Jawa Timur menjadi salah satu daerah favorit destinasi wisata. Pasalnya, daerah yang memiliki sebutan Bumi Blambangan ini menyimpan kekayaan alam yang dapat memanjakan mata. Salah satunya, Kawah Ijen dengan fenomena api biru dan danau vulkanik yang eksotis. Tak heran, dengan daya pikatnya ini membuat Kawah Ijen menjadi destinasi wisata kelas dunia.
Rasanya, tak puas jika hanya menjelajahi Kawah Ijen saat berwisata ke Banyuwangi. Anda bisa mampir dan beristirahat dengan mengunjungi Desa Wisata Tamansari yang terletak di kaki Gunung Kawah Ijen, tepatnya di Kecamatan Licin.
Jangan khawatir, desa wisata ini menyediakan penginapan dengan konsep homestay yang diantaranya telah terverifikasi CHSE.
Desa Tamansari menyimpan beragam kekayaan budaya dan kuliner yang dapat dijelajahi. Salah satunya, tarian gandrung yang diiringi irama rancak saat menyambut kedatangan Anda saat memasuki Taman Gandrung Terakota yang menjadi tempat singgah pertama kali.
Menjadi identitas budaya, Desa Tamansari pun memfasilitasi dengan mengadakan pertunjukkan rutin setiap satu minggu sekali. Untuk menontonnya, wisatawan cukup membayar Rp100.000 per-pax dan mendapatkan makanan tradisional dan minuman herbal.
Di Taman Gandrung Terakota terdapat sekitar 1.000 patung penari gandrung yang terbuat dari tembikar. Konon, Gandrung digunakan sebagai ekspresi rasa kagum masyarakat blambangan terhadap dewi sri. Dewi Sri disebut dewi padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat atas hasil panen yang melimpah.
Oleh karena itu, di Desa Tamansari, Anda akan menemukan hamparan sawah hijau yang menyegarkan. Keseruan menjelajah hamparan sawah ini semakin terasa saat melihat kegiatan membajak sawah secara tradisional.
Ya, sawah yang ada di Desa Tamansari masih aktif digunakan oleh warga setempat. Anda juga merasakan sensasi membajak sawah secara tradisional dengan membayar paket seharga Rp200.000 per orang. Asyik bukan?
Kegiatan menarik lainnya yang bisa dirasakan oleh pengunjung ialah mengolah belerang. Setiap harinya, masyarakat Desa Tamansari mengolah belerang sebanyak 6 ton yang kemudian didistribusikan ke pabrik gula, industri kosmetik, dan industri kimia lainnya.
“Yang jelas dengan kemasan desa wisata apapun yang ada di Tamansari ini kita tingkatkan nilai ekonominya. Kita nggak merubah apapun. Yang petani tetap petani, yang berkebun tetap berkebun. Kita hanya berusaha mengemas apapun yang dilakukan masyarakat itu, jadi suatu menarik bagi wisatawan,” ujar Rizal Sahputra Kepala Desa Wisata Tamansari.
Puas bermain di sawah dengan bulir keringat yang keluar, Anda bisa langsung mengunjungi Sendang Seruni dan mandi di sumber mata air. Uniknya, wisatawan bisa merasakan sensasi mandi dengan air mineral.
Sumber mata air yang terdapat di Sendang Seruni ini dulu dikelilingi hutan dengan tanaman seruni. Konon, air tersebut bisa membuat awet muda. Selain itu, aliran air ini menjadi tempat pemandian bidadari, lho.
Untuk merasakannya, para pengunjung hanya perlu menggocek tiket masuk Rp5.000 saja.
Kental akan filosofi dan budaya, tidak membuat Desa wisata Tamansari tertinggal. Pasalnya, desa Tamansari yang menjadi pionir kebangkitan desa wisata di Banyuwangi ini telah menggeliat dengan inovasi digitalisasinya.
Bahkan, Desa Tamansari dengan basis smart kampung ini telah disiapkan sejak awal 2016. Dengan begitu, desa wisata ini menjadi salah satu desa percontohan yang unggul dengan pendekatan teknologi.

Berkat inovasi digital ini, Desa Tamansari dapat bertahan selama pandemi. Tidak hanya itu, menurut Kepala Desa Wisata Tamansari Rizal Sahputra, lapangan pekerjaan pun semakin luas dan meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat setempat.
“Dengan potensi yang ada, masyarakat bener-bener bisa memanfaatkan potensi ini untuk dirinya sendiri,” katanya.
Salah satunya, Desa Tamansari berhasil mengekspor produk kopi ke New Zealand. Sebelum masa pandemi, produk kopi ini turut diekspor ke Jepang dan Australia.
Menjadi salah satu sentra penghasil kopi, pengunjung juga dapat mencicipi proses pembuatan kopi. Mulai dari memetik biji kopi, pra produksi, sampai ke pascaproduksi. Keseruan ini bisa Anda coba dengan membayar Rp400.000 per pax.
Kerennya, Anda bisa menukarkan 1 kilogram sampah plastik dengan secangkir kopi tubruk. Hal ini pernah dilakukan oleh Menparekraf Sandiaga Uno saat berkunjung.
Selain kopi, Desa Tamansari pun memiliki kekayaan kuliner yang patut dicoba. Di antaranya, klemben gula aren, sawut, dan jenang glempang yang siap menggoyangkan lidah Anda.
Melancong ke Desa Wisata Tamansari yang kaya dengan sumber alam dan budaya ini memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman yang tak terlupakan. Tak heran, jika Desa Tamansari yang masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.
Untuk informasi lengkap dan inspirasi wisata lainnya yang hanya ada di Indonesia, kunjungi laman www.indonesia.travel.
Editor: Anindita Trinoviana