Laporan Jurnalis iNews.id dari Heilongjiang

Lagi Ngehits di Harbin Tiongkok, Melihat Pahatan Salju Terbesar Dunia

Eman Sulistiani ยท Rabu, 24 Januari 2018 - 21:49 WIB
Lagi Ngehits di Harbin Tiongkok, Melihat Pahatan Salju Terbesar Dunia

Asyiknya wisata salju di Provinsi Heilongjiang, Tiongkok. (Foto: iNews.id/Ruby Madjid)

JAKARTA, iNews.id – Mengunjungi objek wisata yang ada saljunya, tidak mesti ke Eropa. Di Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, Tiongkok, traveler bisa melihat langsung pahatan salju terbesar di dunia.

Tentu ini akan menjadi pengalaman menarik dan berkesan bagi traveler yang belum pernah ke Harbin, sebagaimana yang dialami jurnalis iNews.id. Atas undangan dari Administrasi Pariwisata Nasional Tiongkok, kami membuktikan langsung bahwa banyak tempat wisata menarik di  Kota Harbin, Ibu Kota Heilongjiang.

Sebelum bertolak ke Harbin, kami sudah menyiapkan segala perlengkapan “tempur” untuk menghadapi musim salju. Tidak hanya longjohn, jaket tebal, kaus kaki wol, dan kupluk yang kami bawa. Penutup telinga dan sepatu salju masuk dalam list wajib selama travelling ke sana.

Bersama juru kamera Ruby Madjid, kami menggunakan jasa transportasi pesawat China Southern Airlines. Pesawat dijadwalkan pukul 09.00 WIB dan transit di Bandara Guangzou. Kemudian lanjut terbang ke Beijing dan tiba sekitar pukul 21.30 waktu setempat. Zona waktu Beijing hanya terpaut satu jam lebih cepat dari Jakarta.

(Jurnalis iNews.id mengambil gambar pahatan salju terbesar di dunia)

Pagi harinya, sekitar pukul 09.00, kami menghadiri jumpa pers dengan Dirjen Luar Negeri Administrasi Pariwisata Tiongkok. Selain dari iNews.id, media asing yang diundang dari Malaysia, Filipina, Singapura dan China Radio International yang berpusat di Beijing.

Usai makan siang, kami menuju South Beijing Railway Station berangkat ke Harbin dengan kereta cepat 300 kilometer per jam. Jadwal kereta pukul 15.05, dengan harga tiket sekitar Rp600 ribu. Perjalanan Beijing-Harbin sekitar tujuh hingga delapan jam.

(Foto: China Radio International/Rudi)

Kereta cepat Beijing Harbin, memang sangat nyaman. Guncangan kereta halus. Tersedia kafe kecil dalam satu gerbong kereta dan toilet yang bersih.

(Foto: China Radio International/Rudi)

Untuk makan selama perjalanan, ada beberapa pilihan. Bisa membeli makanan berat di stasiun pemberangkatan dan nanti dimakan dalam kereta. Bisa pula pesan lewat online dan diambil di stasiun pemberhentian selanjutnya atau kita pesan dalam kereta.

Kami memilih pesan di kereta. Pilihannya, seperti nasi, daging sapi, tahu dan sayuran. Pilihan lain, nasi ayam tahu dan sayuran, plus air mineral. Kami pilihan menu yang kedua.

Tujuh jam perjalanan, bukan waktu yang sebentar. Beruntung kami duduk bersebelahan dengan jurnalis Bernama, Malaysia. Untuk menghabiskan waktu, kami pun berbincang banyak hal dan bertukar pengalaman. Kami juga sempat terlelap di kereta, mengingat perjalanannya jauh.

(Foto: China Radio International/Rudi)

Sekitar pukul 22.30, kami tiba di Stasiun Harbin. Keluar kereta, kami diingatkan untuk berjalan hati-hati karena jalanan ditutupi lapisan es dan sangat licin.

Bis yang akan menjemput, sudah siap mengantar kami ke hotel. Perjalanan ke hotel, diperkirakan 30 menit. Suhu di luar malam itu -15 derajat Celsius.

Kami bermalam di Hotel Wanda Realm, sebuah hotel bintang lima. Kami mendapat kamar 1801.
Masuk kamar hotel, kami senang karena interiornya cantik, kamar mandi sangat mewah, lengkap dengan garam untuk berendam dan sabun mandi dengan aromatherapy.

Di Kota Harbin selama musim salju, AC memang tidak difungsikan. Pasalnya, jika dinyalakan akan merusak mesin AC.

Atraksi Hewan Kutub

Di pagi hari, kami memulai perjalanan musim salju ke tempat wisata pertama di dunia bertema Kutub Harbin Polarland. Di sini ada berbagai hewan kutub yang bisa dilihat dari dekat, yaitu beruang kutub, serigala putih, penguin, pertunjukan istimewa paus putih beluga, dan singa laut. Semuanya berada dalam ruangan.

Dua ekor serigala putih ada dalam satu ruang kaca. Keduanya berjalan-jalan sambil melihat ke arah pengunjung, seperti memberi kesempatan untuk mengambil foto.

Ada juga dua ekor beruang kutub, badannya besar melakukan atraksi berenang dalam ruangan dan menampilkan gerakan yang lucu dan menggemaskan. Atraksi yang paling dinanti pengunjung adalah pertunjukan paus putih beluga. Dua ekor paus beluga menunjukkan kebolehannya menari dan membuat formasi cantik bersama dua pelatih mereka. Keduanya melakukan gerakan yang sama seperti yang dilakukan pelatih.

Interaksi antara hewan dan manusia yang menakjubkan. Begitu kompak. Diiringi alunan lagu Celine Dion dari sound track film Titanic, My Heart Will Go On sepasang beluga dan kedua pelatihnya membentuk formasi lambang cinta. Mereka menyebutnya “The Heart of Ocean”.

Tak terasa, waktu pertunjukan sekitar 10 menit pun berakhir dengan ucapan salam dari paus beluga, seperti berbicara dengan para pengunjung mengucapkan salam dan terima kasih. Dalam pertunjukan ini, setiap pengunjung mendapatkan es krim khas Kota Harbin.

Setelah puas menyaksikan sejumlah atraksi hewan kutub, kami berjalan keluar menuju atraksi penguin. Lima ekor penguin berbaju merah dan putih, menjadi hiburan lucu bagi pengunjung. Mereka ditempatkan dalam area kecil yang dikeliling tembok salju buatan, sehingga tidak bisa lari keluar. Namun, pengunjung tetap bisa menikmati tingkah penguin yang lucu dan menggemaskan.

Festival Pahatan Salju

Perjalanan kami selanjutnya ke area festival internasional pahatan salju terbesar di dunia. Di sini berbagai pahatan salju hasil karya pemahat dari sejumlah negara ditampilkan.

(Kampung Salju Xuexiang)

Bangunan salju yang indah, terdiri dari berbagai ukuran, bangunan raksasa, sedang dan kecil-kecil, semua tertata indah di area festival. Tema festival internasional es dan salju di Harbin tahun ini, “Colouring of the World”.

Festival musim dingin di Kota Harbin, benar-benar ingin memuaskan wisatawan. Jika Anda tidak ingin bersusah payah ke gunung es, di Mall Harbin Wanda City juga tersedia permainan ski dan olahraga musim dingin dalam ruangan. Untuk anak-anak pun disediakan lokasi permainan di area luar mal.

Usai makan malam, kami menuju festival dunia es dan salju. Lampu warna-warni menghiasi bangunan pahatan es raksasa. Karya seni pahatan es replika berbagai bangunan ikon dunia, memukau mata pengunjung.

(Kampung Salju Xuexiang)

Di sini kami tidak bertahan lama, karena suhu sangat dingin. Ujung sarung tangan membatu dan tangan kaku. Betapa tidak, kami berada di area es yang suhunya mencapai -39 derajat Celsius.

Masjid dan Gereja dengan Arsitek Menarik

Perjalanan kami selanjutnya menuju Harbin Volga Manor Resort, theme park bernuansa Rusia. Pengaruh Rusia di Kota Harbin sangat kental. Pasalnya, posisi kota di wilayah Timur Laut Tiongkok ini berbatasan dengan Rusia.

Kami lalu mengunjungi gedung dengan arsitektur Rusia dan lukisan-lukisan cantik bernuansa Eropa. Konon, gedung ini adalah replika gedung bersejarah yang bernama Petrov art Palace, tempat warga berpesta dan berdansa.

Satu gedung yang penting di resor Harbin Volga Manor adalah replika Gereja St Nichola, salah satu landmark Kota Harbin.

Gereja ortodox Rusia ini, dibangun kembali sesuai dengan aslinya pada 2007. Bangunan dengan materi kayu ini, tersambung dengan pasak kayu, tidak sedikit pun ada semen dalam bangunan ini. Di Harbin Volga Manor, kami sempat mencoba seluncuran salju.  


Kunjungan berikutnya adalah masjid terbesar di Provinsi Heilongjiang, yaitu Masjid Daowai atau disebut Masjid Harbin. Masjid yang menjadi penanda keberadaan umat Islam di Tiongkok, dibangun pertama kali pada zaman kerajaan Guangxu pada masa Dinasti Qing tahun 1897. Kemudian dibangun kembali tahun 1904. Berkat bantuan penganut Islam, tahun 1935, bangunan dilengkapi dengan kubah yang menambah indah kompleks masjid ini.

Sementara itu, perluasan masjid terakhir dilakukan pada 2003. Masjid Daowai bisa menampung sekitar 600 jamaah. Gedung utama digunakan khusus untuk laki-laki, sementara jamaah perempuan berada di samping masjid, namun masih dalam area yang sama.

Pemandangan Indah di Sungai Songhua

Sungai Songhua yang membelah Kota Harbin dengan jembatan yang indah, menjadi tujuan kami selanjutnya. Sungai Songhua mengalir sepanjang 1.434 kilometer dari Pegunungan Changbai melalui Provinsi Heilongjiang dan Jilin. Di tengah Sungai Songhua, tidak jauh dari Jembatan Sungai Songhua, pengunjung bisa berjalan-jalan di tengah sungai atau menikmati kendaraan khas salju. Namun ingat, harus berhati-hati agar tidak jatuh terpeleset karena berjalan di atas es.


Selepas Maghrib, kami menuju Gereja Kristen Ortodox Saint Sophia yang dahulu gereja ortodox Rusia. Gereja ini konon dibangun oleh tentara Rusia pada Maret 1907 dan direnovasi selama Sembilan tahun, sejak 1923 hingga 1932.  

Saint Sophia sempat berfungsi sebagai museum pada 1997.  Bangunan gereja yang megah ini, merupakan hasil seni yang monumental dan perpaduan seni Oriental Tiongkok, Eropa, Moscow, dan Paris. Gereja ortodox ini memiliki tinggi 53,3 meter dan luas 721 meter persegi.


Untuk bisa melihat keindahan dalam gereja, pengunjung wajib membayar tiket 15 Yuan atau sekitar Rp30 ribu. Saat musim salju, Saint Sophia dipenuhi pengunjung yang ingin menikmati kemegahan bangunan dan keindahan ornamen yang menghiasi dinding dan seluruh atap bangunan. Kini, operasional Gereja Saint Sophia dijalankan oleh etnis minoritas Rusia di Harbin.

Editor : Tuty Ocktaviany