Menelusuri Lembah Bada yang Menawan di Poso, Ada Patung Purbakalanya
JAKARTA, iNews.id - Bagi pencinta sejarah, bepergian melihat beragam benda-benda kuno atau purbakala menjadi momen mengasyikan. Jika Anda ingin travelling sambil melihat sejarah purbakala, tidak ada salahnya mengunjungi Lembah Bada atau Lembah Napu, di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Lembah Bada masuk ke dalam area Taman Nasional Lore Lindu, di sini terdapat patung-patung berukuran raksasa yang memuat tentang sejarah Suku Napu, besoa, dan Bada yang dulunya menempati lembah ini.
Lembah Bada menjadi salah satu destinasi favorit ketika Anda berwisata ke Sulawesi Tengah. Pemandangan alamnya masih alami dan udaranya sejuk. Berada di Lembah Bada, wisatawan tak hanya akan disajikan dengan pemandangan patung-patung purbakala. Tetapi juga hamparan savana hijau yang segar.

"Lembah Bada merupakan bagian dari Taman Nasional Lore Lindu. Jika berkunjung ke Lembah Bada, sahabat akan menjumpai puluhan Patung Purbakala yang diperkirakan sudah ada sejak abad 14. Di Lembah Bada terdapat banyak patung misterius, salah satunya adalah Patung Palindo. Situs Megalitikum ini ditemukan pertama kali pada 1908. Walaupun penemuan tersebut sudah berlangsung lebih dari 100 tahun," tulis Instagram @indoflashlight, dikutip Kamis (19/7/2018).
Patung ini di buat sekitar 5000 tahun silam. Menurut Ancient Origins, hingga saat ini tak diketahui siapa yang membuat patung megalit di Lembah Bada. Berdasarkan penelitian inventarisasi pada 1994, di sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu terdapat 300-an lebih situs megalit ini.
Masyarakat lokal percaya, batu itu dulunya digunakan untuk melakukan "Pemujaan Terhadap Leluhur". Para tetua di Desa Sepe percaya, salah satu patung bernama Palindo yang berarti sang penghibur dalam bahasa setempat adalah representasi dari penduduk pendahulu mereka, yaitu suku Tosaloge.
Sesuai legenda, Raja Luwuk memerintahkan 1.800 patung dari Sepe ke Palopo untuk menandai kekuasaannya di Bada. Patung ini seharusnya menghadap ke selatan, namun misi ini gagal, karena penduduk Bada meletakkannya dengan menghadap ke barat. Ketika sang raja meminta untuk mengubah posisinya, patung ini menimpa pasukan raja dan membunuh sekitar 200 orang.
Lembah Bada sangat indah karena terletak di daerah yang relatif datar, dikelilingi perbukitan, sehingga awan yang tertahan di puncak bukit yang mengelilingi lembah menyajikan pemandangan dramatis. Di tengah Lembah Bada mengalir Sungai Lariang, menyatu dengan Sungai Malei, diperkirakan batu-batu ini berasal dari sungai tersebut.
Editor: Vien Dimyati