Mengenal Keunikan Suku Dani di Lembah Baliem Papua yang Mendunia

Vien Dimyati ยท Jumat, 24 Mei 2019 - 23:07 WIB
Mengenal Keunikan Suku Dani di Lembah Baliem Papua yang Mendunia

Uniknya Suku Dani di Lembah Baliem Papua. (Foto: Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Sudah mengenal Suku Dani, penghuni Lembah Baliem yang mendunia? Suku asli Papua ini dikenal memiliki budaya perang dan terampil bercocok tanam serta berburu.

Suku Dani tinggal berpencar di seluruh wilayah Lembah Baliem hingga Puncak Jayawijaya. Berwisata ke sini, Anda tak hanya disuguhi kekayaan sejarah dan budaya, juga pemandangan alam pegunungan yang memesona.

Terletak di Pegunungan Jayawijaya, Papua Barat, Lembah Baliem berada di ketinggian 1.600 mdpl. Lembah Baliem merupakan tempat tinggal Suku Dani, Suku Yali, dan Suku Lani. Lokasinya yang berada di ketinggian, membuat Lembah Baliem dikelilingi pegunungan. Suhu udara di sini berkisar 10-15 derajat Celsius.

Memiliki panjang sekitar 80 kilometer dan lebar mencapai 20 kilometer, lembah ini dipotong Sungai Baliem yang mengalir ke Grand Valley dan bermuara di Laut Arafura. Tak hanya pegunungan yang dapat memikat wisatawan. Ladang penduduk berlatar puncak gunung juga menjadi teman perjalanan menuju Lembah Baliem.

Lembah Baliem ditemukan secara kebetulan pada 23 Juni 1938 oleh seorang peneliti asal Amerika bernama Richard Archbold. Archbold melakukan penerbangan di atas lembah dengan pesawat terbang airnya PBY Catalina 2 bernama Guba II. Pakar ilmu hewan dan filantropis ini adalah cucu industrialis minyak kaya raya, John Dustin Archbold. Archbold pula yang pertama kali bersentuhan langsung dengan Suku Dani.

Suku Dani dikenal sebagai suku berperangai keras dan menggemari peperangan. Namun jika sudah mengenal, mereka baik dan ramah. Suku Dani bahkan memiliki kemampuan di bidang seni. Kesenian mereka tergolong tinggi. Hal ini terlihat dalam setiap rumah yang mereka tinggali selalu ada tempat untuk membuat kerajinan atau menenun.

"Rumah tradisionalnya disebut dengan Honai, memiliki atap setengah oval seperti kubah, beratap jerami, dan tidak memiliki jendela. Sepintas Honai mirip dengan Iglo, rumah tradisional di Kutub Utara. Honai sendiri memiliki ketinggian sekitar 2,5 meter, terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat tidur dan lantai dua sebagai tempat istirahat, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Bagaimana Sobat, tertarik mengunjungi Suku Dani?" tulis Instagram @pesonaid_travel, Jumat (24/5/2019).

Kehidupan Suku Dani tak banyak mengalami modernisasi. Tradisi kuno masih mereka pertahankan hingga saat ini. Bahkan, pakaian, rumah adat, dan gaya hidup masih dilestarikan. Para pria Suku Dani masih memakai koteka (penutup kemaluan pria yang terbuat dari umbi sejenis labu panjang). Sementara para wanitanya lebih suka bertelanjang dada. Mereka masih tinggal di Honai (rumah khas Suku Dani yang beratapkan jerami, berdinding kayu dan berbentuk jamur).


Editor : Tuty Ocktaviany