Mengintip Kisah I Gusti Ngurah Rai sambil Menjelajahi Bali melalui Buku Prosa Gerilya
"Ada tiga elemen di buku ini. Ada sastra, sejarah dan travel writing. Setiap titik gerilya di desa yang dilalui I Gusti Ngurah Rai, itu sangat menarik dijadikan destinasi alternatif di Bali," kata Andre Syahreza, melalui keterangannya belum lama ini.
Bahkan, Andre saat melakukan proses pembuatan buku, dia menjelajahi satu per satu desa yang dilalui I Gusti Ngurah Rai di Bali. Dia juga sempat berbicara dengan orang sekitar. Dari hasil itu, dia mengetahui kehebatan I Gusti Ngurah Rai terletak di personality.
"(I Gusti Ngurah Rai) Orangnya tenang, santun tapi gak kenal kompromi. Selain itu juga kharismatik. Saksi sejarah di Desa Munduk Malang, yang kini usianya 100 tahunan, pada masa itu dia usia 14 tahun. Dia tugasnya kasih makan malam untuk komandan tertinggi di Indonesia. Menurut dia I Gusti Ngurah Rai orangnya tenang, dan sifatnya damai," kata Andre.
"Ini nyentuh banget. Panglima perang dengan sifat damai ini bisa pimpin perang. Ini hal kontradiktif tapi ini jadi kekuatan. Berarti ada sesuatu paripurna dalam diri dia. Jadi dia seperti punya kepasrahan terhadap tuhan dan negara. I Gusti Ngurah Rai punya kekuatan tenang," katanya.
Andre menambahkan, ketika dia merefleksikan profil I Gusti Ngurah Rai yang begitu luar biasa serta dengan semangat yang tak lekang oleh waktu, dia sangat tersentuh oleh dedikasi I Gusti Ngurah Rai yang tak tergoyahkan untuk bangsa.