Sebelum Terbakar, Begini Keindahan Gunung Ciremai yang Bikin Pendaki Jatuh Hati
KUNINGAN, iNews.id – Gunung Ciremai bukan sekadar gunung tertinggi di Jawa Barat. Berdiri menjulang hingga 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung ini menyimpan pesona alam yang membuat para pendaki rela menempuh perjalanan panjang demi mencapai puncaknya.
Namun, keindahan alam tersebut kembali menjadi perhatian setelah kebakaran melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Hingga Kamis (22/10/2026) pukul 07.15 WIB, api dilaporkan belum padam dan tim gabungan masih berupaya melakukan pemadaman.
Kabar ini menjadi pengingat bahwa Gunung Ciremai bukan hanya destinasi petualangan, melainkan juga kawasan konservasi dengan ekosistem yang perlu dijaga.
Sebelum kebakaran terbaru terjadi, Ciremai dikenal dengan lanskap pegunungannya yang megah, kawah luas di puncak, vegetasi hutan yang beragam, serta panorama dari ketinggian yang menjadi daya tarik bagi pencinta alam.
Lantas, seperti apa keistimewaan gunung yang dijuluki atap Jawa Barat ini? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini.

Gunung Ciremai memiliki ketinggian 3.078 mdpl dan menjadi titik tertinggi di Jawa Barat. Bentuknya yang menjulang dan relatif berdiri sendiri membuat gunung ini terlihat menonjol di antara lanskap wilayah sekitarnya.
Bagi pendaki, mencapai puncak Ciremai menjadi pencapaian tersendiri. Perjalanan menuju puncaknya membutuhkan persiapan fisik, ketahanan mental, serta perlengkapan yang memadai karena medan pendakian memiliki sejumlah tanjakan terjal.
Perjuangan tersebut menjadi bagian dari daya tarik Ciremai. Pendaki tidak hanya mengejar puncak, tetapi juga menikmati perjalanan melewati beragam bentang alam pegunungan.
Salah satu keistimewaan Gunung Ciremai adalah bentang kawah vulkaniknya yang luas. Sebagai gunung api aktif, Ciremai memiliki kawah yang menjadi bagian penting dari karakter geologinya.
Panorama kawah menghadirkan sisi berbeda dari keindahan gunung ini. Lanskap vulkanik tersebut memperlihatkan bagaimana proses alam membentuk kawasan pegunungan selama waktu yang panjang.
Meski menjadi daya tarik visual, kawasan kawah bukan tempat yang bebas dimasuki. Balai TNGC telah menegaskan bahwa area kawah merupakan zona inti yang dilarang dimasuki pendaki maupun pengunjung demi keselamatan dan perlindungan ekosistem.

Pemandangan lautan awan menjadi salah satu pesona yang dicari pendaki ketika menjelajahi gunung-gunung tinggi, termasuk Ciremai.
Dari ketinggian, gumpalan awan dapat terlihat menyelimuti lanskap di bawah puncak, menciptakan pemandangan seolah-olah hamparan putih membentang tanpa ujung. Ketika cuaca mendukung, panorama matahari terbit juga menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang menjalani pendakian sejak malam hari.
Momen seperti ini membuat perjalanan menuju puncak terasa istimewa. Meski demikian, kemunculan lautan awan dan matahari terbit bergantung pada cuaca serta kondisi atmosfer sehingga tidak selalu dapat dinikmati setiap pendaki.
Pesona Gunung Ciremai tidak berhenti di puncak. Kawasan taman nasionalnya juga berperan penting sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna.
Berdasarkan profil resmi kawasan konservasi, hutan Gunung Ciremai memiliki fungsi ekologis dan hidrologis penting, termasuk sebagai daerah resapan air serta sumber mata air bagi wilayah sekitarnya.
Vegetasi hutan pegunungan membentuk lanskap yang berbeda sepanjang perjalanan. Bagi pendaki, melewati kawasan berhutan bukan hanya bagian dari perjalanan menuju puncak, tetapi juga kesempatan mengenal kekayaan alam yang menjadi bagian dari ekosistem Ciremai.
Itulah sebabnya kebakaran hutan menjadi persoalan serius. Kerusakan vegetasi dapat memengaruhi habitat satwa, fungsi resapan air, serta keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat di sekitar gunung.

Gunung Ciremai memiliki sejumlah jalur pendakian yang dikenal para pencinta alam, yakni Linggarjati, Linggasana, Palutungan, Apuy, dan Trisakti Sadarehe. Jalur-jalur tersebut menjadi akses menuju kawasan puncak dari wilayah Kuningan dan Majalengka.
Setiap jalur memiliki karakter medan dan pengalaman perjalanan yang berbeda. Ada pendaki yang menyukai tantangan tanjakan, ada pula yang memilih jalur berdasarkan akses menuju titik awal pendakian dan perencanaan perjalanan.
Keberagaman jalur tersebut turut membuat Ciremai dikenal di kalangan pendaki dengan pengalaman yang berbeda-beda. Namun, menaklukkan gunung ini tetap membutuhkan persiapan matang, termasuk perbekalan air, kondisi fisik, dan kepatuhan terhadap aturan pengelola.
Perlu diketahui, seluruh aktivitas pendakian menuju puncak Gunung Ciremai telah ditutup sementara sejak 6 September 2026 untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan. Penutupan diberlakukan sampai risiko kebakaran dinyatakan aman.
Keindahan Gunung Ciremai kini dibayangi kebakaran yang kembali terjadi pada Rabu malam, 21 Oktober 2026. Berdasarkan informasi yang dibagikan akun Instagram @kreatorfai, api masih menyala hingga Kamis pagi pukul 07.15 WIB.

Tim Brigdalkarhutla TNGC, Balai Brigdalkarhutla Jabalnusra, MPA, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, sejumlah mitra wisata TNGC, serta masyarakat sekitar kawasan hutan masih melakukan upaya pemadaman.
Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran di dalam maupun di sekitar kawasan hutan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Hingga informasi tersebut disampaikan, belum tersedia keterangan terbaru mengenai luas lahan yang terdampak kebakaran maupun waktu yang dibutuhkan untuk memadamkan seluruh api.
Editor: Muhammad Sukardi