Spot Eksotis Menikmati Sunrise Bromo, Jelajahi Puncak Cemoro Lawang
JAKARTA, iNews.id - Desa yang berada di ketinggian 2.200 mdpl ini menjadi gerbang masuk menuju kawasan Bromo di Probolinggo. Banyak yang menjuluki kawasan ini sebagai Negeri di Atas Awan. Nama desa ini adalah Cemoro Lawang. Desa ini dihuni oleh Suku Tengger. Ciri khas suku ini adalah sarung yang selalu diselempangkan di leher.
Suku Tengger pandai bercocok tanam. Jika datang ke sini, Anda akan melihat perbukitan yang dihiasi beragam tanaman perkebunan yang tertata apik. Mayoritas suku Tengger menganut agama Hindu. Mereka menggunakan Pura Poten yang berada di tengah lautan pasir Gunung Bromo untuk upacara tahunan masyarakat Tengger. Upacara tahunan itu disebut Upacara Kasodo.
Nama Cemoro Lawang sendiri memiliki arti pohon cemara yang dijadikan sebagai pintu. Kedua nama tersebut berasal dari bahasa Jawa yaitu cemoro dan lawang. Cemoro artinya pohon cemara sedangkan lawang artinya pintu. Di desa ini memang banyak pohon cemara yang berjajar dari lereng hingga ke arah desa. Anda juga bisa menikmati hamparan kabut yang menyelimuti sebagian desa.
Di desa ini suasananya dingin. Kabut akan turun setiap hari. Terlebih menjelang malam, kabut akan turun dan menyelimuti desa ini. Pada pagi hari, bersamaan dengan terbitnya matahari, kabut akan mulai menipis. Anda bisa menikmati sunrise yang menakjubkan di sini. Terdapat banyak penginapan dengan harga murah di Desa Cemoro Lawang. Tersedia pula jasa jeep yang akan mengangkut para wisatawan berkelana ke Gunung Bromo.
Jika ingin melihat sunrise yang lebih memukau, Anda harus menuju ke tempat yang lebih tinggi, yaitu Pananjakan. Tempat ini menjadi lokasi melihat lansekap matahari terbit Bromo secara luas dan menyeluruh. Anda harus pagi-pagi untuk medapatkan kesempatan melihat sunrise yang istimewa ini. Lalu berjalan kaki, menggunakan sepeda motor atau jeep menuju titik tertinggi dari rangkaian Kaldera Tengger.