Viral, Suku Asli Jambi Keluar dari Hutan Menyapa Warga, seperti Ini Suasananya
JAKARTA, iNews.id - Ramai di media sosial TikTok seorang warganet merekam suku Anak Dalam atau suku asli masyarakat Jambi yang tengah melintas di jalan desa. Pemandangan ini menjadi perhatian banyak orang yang melintas.
Dalam video yang diunggah oleh @titin_sagita_1212 sekelompok perempuan suku anak dalam berjalan perlahan dan terlihat ramah dengan membalas sapaan warga, dibalas dengan senyum tipis. Mereka membawa kain yang digendong di bagian belakang, entah apa isi gendongan tersebut.
Semua wanita itu menggunakan rok dan atasan baju modern. Salah seorang dari mereka bahkan, sempat meminta izin dulu untuk meminta tebu di halaman sang pemilik akun. "Mau minta tebu," kata salah seorang wanita suku Anak Dalam, dikutip pada Selasa (4/7/2023).
Permintaan tersebut kemudian diperbolehkan oleh sang pemilik akun. "Ambilah kalau mau yuk," jawabnya.
Akhirnya sebagian perempuan itu berbalik arah menuju halaman untuk mengambil tebu, yang telah diperbolehkan oleh sang pemilik.
Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan merupakan kelompok suku lokal yang salah satunya bermukim di Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Diketahui, SAD Batin Sembilan telah ada sejak sebelum masa kemerdekaan, serta sejak Desa Tanjung Lebar masih berstatus sebagai dusun sebelum tahun 1981. Hingga saat ini SAD mash ada dan berkembang dari generasi ke generasi.
Kebanyakan suku ini sudah mulai terbuka dengan masyrakat luar, sehingga mereka tak keberatan untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang-orang di luar sukunya.
SAD tinggal di dalam hutan dan menggantungkan hidupnya pada hasil hutan. Suku ini dipercaya sebagai keturunan dari Kesultanan Jambi yang menguasai beberapa hulu sungai pada masa itu. Di mana, cara hidupnya juga nomaden. Suku Anak Dalam Batin Sembilan bermukim di Hutan Harapan dan masih melakukan praktik tradisional, dan menjalankan kosmologi yang merefleksikan interaksi panjang dengan lingkungan dan alam.
Hutan bagi mereka adalah lahan untuk menerapkan praktik perladangan gilir-balik, mencari hasil hutan non-kayu, tempat berburu, tempat mencari obat, dan mempertahankan sistem pengetahuan tradisional.
Editor: Vien Dimyati