Wisata Sejarah Aceh, Asyiknya ke Benteng Kuno Indra Patra Terlihat Instagramable

Vien Dimyati ยท Jumat, 16 Agustus 2019 - 11:46 WIB
Wisata Sejarah Aceh, Asyiknya ke Benteng Kuno Indra Patra Terlihat Instagramable

Asyiknya ke Benteng Kuno Indra Patra (Foto : Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Terkenal sebagai salah satu lumbung sejarah, berpetualang ke Aceh bisa menjadi pilihan tepat mengisi waktu liburan. Mulai dari benteng, bangunan kuno, batu-batu bersejarah, hingga masjid tua bisa Anda temukan di kota berjuluk Serambi Makkah ini.

Menariknya, bangunan-bangunan tua ini memiliki daya pikat tersendiri. Bahkan, bagi anak milenial terlihat sangat Instagramable.

Tak hanya menyimpan sejarah tentang kejayaan peradaban Islam, jauh sebelum Islam masuk ke Aceh, agama Hindu terlebih dulu berkembang di Daerah Istimewa ini. Salah satu saksi bisu masa keemasan kerajaan Hindu di Aceh adalah Benteng Indra Patra.

Situs arkeologi ini didirikan sekitar 604 Masehi oleh Raja Kerajaan Lamuri, yang merupakan Kerajaan Hindu Pertama di Aceh. Hingga kini, situs sejarah yang terletak di sekitar pantai Ujoeng Kareung, tepatnya di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar ini masih berdiri kokoh.

Kerajaan Lamuri mendirikan benteng ini untuk membentengi wilayah-wilayahnya dari ledakan meriam kapal Portugis yang datang dari arah Selat Malaka. Selain itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah para Umat Hindu di Aceh. Wilayah kekuasaan Kerajaan Lamuri mencakup daerah yang sekarang masuk wilayah administratif Kabupaten Aceh Besar.

"Benteng ini menjadi saksi bisu masa keemasan kerajaan Hindu di Aceh. Konstruksinya terkenal sangat kokoh dengan bahan perekat rahasia tempo dulu. Pasalnya, meski pernah diterjang tsunami, benteng ini masih bisa berdiri tegak hingga kini, dan tak lapuk dimakan usia. Penasaran, ingin melihat langsung Benteng Indra Patra yang unik dan tangguh? Yuk, berpetualang ke Aceh!" tulis Instagram @Pesonaid_travel, dikutip Jumat (16/8/2019).

Semasa Kesultanan Aceh, Benteng Indra Patra berperan besar sebagai salah satu garis pertahanan dalam menghadapi Portugis. Benteng ini direbut dari Portugis oleh Darmawangsa Tun Pangkat (Iskandar Muda).

Semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) benteng ini, bersama Benteng Inong Balee, Benteng Kuta Lubok, dan beberapa benteng lainnya menjadi pusat pertahanan Aceh, terutama dalam menghadang serangan dari arah laut. Posisi benteng yang berhadapan dengan Benteng Inong Balee di seberang timur Teluk Krueng Raya, berperan strategis dalam mencegah armada Portugis memasuki Aceh melalui teluk ini.

Benteng Indra Patra terdiri dari benteng utama berukuran 4.900 meter persegi, dan tiga benteng lainnya. Tapi, dua di antaranya telah hancur ketika tsunami Aceh. Konstruksi benteng ini disusun dari bongkahan-bongkahan batu gunung. Setelah itu, batu-batu gunung direkatkan dengan campuran kapur, tumbukan kulit kerang, tanah liat, dan putih telur.

Di dalam benteng utama terdapat dua stupa dengan kubah di atasnya, di masing-masing stupa memiliki sumur. Air di dalam sumur itu digunakan oleh umat Hindu untuk mensucikan diri ketika akan melaksanakan ritual ibadah.

Selain itu, Benteng Indra Patra merupakan satu dari tiga benteng yang menjadi penanda wilayah kerajaan Hindu di Aceh, yaitu Indra Patra, Indra Puri, dan Indra Purwa. Tak jauh dari benteng utama, terdapat juga bangunan benteng pertahanan.

Di setiap sisi dinding benteng dilubangi. Lubang-lubang itu berfungsi sebagai lubang pengintai musuh dan tempat meletakkan moncong meriam. Selain itu, terdapat bunker untuk menyimpan meriam-meriam dan peluru. Benteng Indra Patra kelihatan sangat kokoh dan memiliki ketebalan dinding sekitar dua meter dengan ketinggi sekitar empat hingga lima meter.

Benteng Indra Patra terletak 19 kilometer ke arah barat dari Banda Aceh. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit. Jalan menuju situs bisa dikatakan sebagai jalur sejarah, karena di sepanjang jalur terdapat beberapa tempat yang memiliki nilai-nilai sejarah, di antaranya bukit makam kuno Kerajaan Lamuri, tugu pendaratan armada Jepang pertama kali di Aceh, Benteng Iskandar Muda, Makam Laksamana Keumalahayati, dan Benteng Inong Balee.


Editor : Vien Dimyati