Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kuning Telur Tak Perlu Ditakuti, Ahli Gizi Ungkap Mitos Kolesterol
Advertisement . Scroll to see content

Rahasia Memasak Telur agar Protein Maksimal, Suhu Jadi Kunci

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:15:00 WIB
Rahasia Memasak Telur agar Protein Maksimal, Suhu Jadi Kunci
Suhu saat memasak menjadi faktor penting yang menentukan kualitas protein dan kandungan gizi telur. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Banyak orang mengira cara memasak telur hanya memengaruhi rasa dan tingkat kematangannya. Padahal, suhu saat memasak ternyata menjadi faktor penting yang menentukan kualitas protein dan kandungan gizi telur.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, mengungkapkan proses pemanasan memang membuat protein telur lebih mudah dicerna tubuh. Namun, suhu yang terlalu tinggi justru dapat menurunkan kualitas gizinya.

Menurut dia, protein telur akan mengalami denaturasi saat dimasak. Proses ini membuat protein lebih mudah dipecah dan diserap oleh sistem pencernaan dibandingkan telur mentah.

"Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen," katanya.

Meski memberikan manfaat, proses memasak tetap harus dilakukan dengan suhu yang tepat. Dr Karina menyarankan telur dimasak pada suhu sekitar 60 hingga 80 derajat Celsius agar kandungan gizinya tetap terjaga.

Dia mengingatkan, pemanasan pada suhu di atas 150 hingga 160 derajat Celsius dalam waktu lama berpotensi merusak sebagian asam amino yang terkandung di dalam telur. Akibatnya, kualitas protein dapat menurun.

Selain memperhatikan suhu, penggunaan minyak juga menjadi faktor penting dalam menentukan nilai gizi telur. Baik telur ceplok maupun telur dadar pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang hampir sama.

"Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak," ujarnya.

Dia menjelaskan, telur dadar umumnya menyerap lebih banyak minyak sehingga kandungan lemak dan kalorinya bisa lebih tinggi. Penambahan bahan seperti keju, sosis, tepung, atau daging cincang juga dapat meningkatkan nilai energi pada hidangan tersebut.

Bagi masyarakat yang sedang menjaga berat badan, Dr Karina menyarankan metode memasak tanpa minyak, seperti merebus, membuat poached egg, atau mengukus. Namun, telur ceplok maupun telur dadar tetap bisa menjadi pilihan sehat selama penggunaan minyak dibatasi, misalnya dengan memanfaatkan wajan anti lengket atau minyak semprot.

Dia juga meluruskan anggapan bahwa kuning telur harus dihindari karena mengandung kolesterol. Menurutnya, kuning telur justru kaya vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Berbagai penelitian terbaru juga menunjukkan konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang sehat. Peningkatan kolesterol darah lebih banyak dipengaruhi oleh konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol.

Sebab itu, Dr Karina mengimbau masyarakat tidak ragu menjadikan telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang. Selain memilih bahan berkualitas, memperhatikan suhu dan cara memasak menjadi kunci agar manfaat protein telur dapat diperoleh secara optimal.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut