Tak Ada Lagi Minuman Manis di Thailand, Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id - Viral di media sosial informasi bahwa Thailand sudah tidak lagi menyediakan minuman manis. Benarkah kabar tersebut? Cek faktanya di sini.
Selain terkenal dengan tempat wisata dan budaya, Thailand juga dikenal dengan kuliner yang khas. Satu di antaranya adalah Thai Tea.
Minuman manis ini sangat identik dengan Thailand. Tapi, faktanya sekarang semua minuman manis di Thailand tidak manis lagi, lebih tepatnya 'less sugar'. Hal ini mengacu pada aturan pemerintah yang resmi mengubah standar kadar gula dalam minuman kemasan dan gerai populer.
Kini, kadar manis normal atau 'normal sweet' berarti 50 persen lebih sedikit gula dibanding sebelumnya. Kebijakan ini mulai diberlakukan sebagai bentuk dari kampanye nasional untuk menekan konsumsi gula berlebih.
Diketahui, selama ini minuman manis di Thailand memang dikenal cukup intens. Baik itu iced coffee, Thai milk tea, hingga minuman cokelat dingin.
Namun dengan aturan baru, kadar gula dalam satu gelas standar kini dipangkas setengahnya. Sebagai gambaran, minuman kopi es ukuran sekitar 473 ml yang sebelumnya mengandung lebih dari 7 sendok teh gula, kini hanya sekitar 3–4 sendok teh.
Artinya, wisatawan tidak perlu memilih opsi 'less sugar' untuk mendapatkan minuman yang lebih sehat dari biasanya. Namun, pelanggan juga tetap bisa meminta tingkat kemanisan lama jika menginginkan.
Tren ini tidak hanya mengurangi kalori, tapi juga berdampak positif seperti energi harian yang lebih stabil, berkurangnya risiko obesitas dan diabetes, kesehatan metabolisme yang lebih baik, hingga kulit yang lebih terjaga. Menariknya, menurut otoritas kesehatan setempat, lidah manusia hanya butuh sekitar dua minggu untuk beradaptasi dengan tingkat kemanisan baru.
Langkah Thailand ini juga bisa jadi sinyal perubahan gaya hidup di Asia Tenggara. Di tengah tren minuman kekinian yang cenderung mengandung banyak gula, kesadaran akan gula tersembunyi makin meningkat.
Tren ini bukan semata-mata menghapus minuman manis dari keseharian, tapi menggeser standar secara perlahan. Strategi ini dinilai lebih realistis karena tidak memaksa perubahan drastis, tetapi membentuk kebiasaan baru secara bertahap.
Editor: Muhammad Sukardi