Selain itu, Bahlil juga menyebutkan Indonesia baru menggarap nikel secara masif pada 2017-2018. Karena itu, pemerintah akan tetap mendorong pembangunan smelter nikel, yang ditargetkan mencapai 53 smelter pada 2024. Dia pun meyakini langkah tersebut dapat menambah 40 persen nilai tambah nikel.
Sementara untuk menjaga keseimbangan produksi nikel, pemerintah mengedepankan pemakaian teknologi dan energi terbarukan.
"Jadi kalau dibilang mau dibatasi, cara membatasinya adalah dengan membuat mereka jangan bikin nilai tambahnya 80 persen tapi harus dengan sampai end to end," tuturnya.