Menteri BUMN, Erick Thohir. (Foto: Istimewa)
Suparjo Ramalan

JAKARTA, iNews.id - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menilai PT Pertamina (Persero) tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan migas asal Malaysia, Petronas. Dalam produksi, kata Erick, Petronas sudah memproduksi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara mandiri, sementara Pertamina masih mengandalkan impor BBM. 

Selain itu, ada kondisi lain yang membuat kedua perusahaan pelat merah ini berbeda.

"Tidak bisa dibandingkan, misalnya Pertamina dengan Petronas, ya beda, karena Petronas memproduksi, kita negara mengimpor, kondisinya beda," ujar Erick saat ditemui wartawan di Gedung Perpustakaan Nasional, Rabu (3/8/2022).

Di sisi lain, Erick memastikan pemerintah masih menjaga harga BBM jenis Pertamax, meski harga BBM RON 92 ini berada di bawah harga keekonomian nasional.

Pemerintah memang sudah menaikan harga tiga jenis Bahan Bakar Minyak nonsubsidi sejak 10 Juli 2022 lalu. Ketiga jenis BBM ini di antaranya Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex. 

Meski begitu, Pertamina masih menahan harga Pertamax di angka Rp12.500 per liter dan Pertalite di kisaran Rp7.500 per liter. Kenaikan harga BBM umum atau non-penugasan pemerintah ini berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 62 K/12/MEM/2020.

Beleid ini mengatur tentang formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM Umum, jenis bensin, dan minyak solar yang disalurkan melalui SPBU. 

Pertamax Turbo atau RON 98 naik dari semula Rp14.500 per liter menjadi Rp16.200 per liter, sedangkan Dexlite naik dari semula Rp12.950 per liter menjadi Rp15.000 per liter.

"Pemerintah hari ini posisinya bahwa yang disubsidi itu adalah yang memerlukan, yang mampu tidak disubsidi, saya rasa kalau Pertamax kan tetap kalau kita lihat Pertamax Pertamina dan (bahan bakar setara) Pertamax merek lain masih berbeda, artinya kan berbeda hari ini berbeda dan sudah berapa bulan berbeda, penjualan Pertamax saja Pertamina hadir harganya terjangkau," ucapnya.


Editor : Aditya Pratama

BERITA TERKAIT