Wishnu optimistis akuisisi ini merupakan langkah yang tepat sebagai ekspansi bisnis IATA yang selama ini memiliki bisnis inti berupa pelayanan jasa angkutan udara bagi industri. Dia yakin, GMF akan memberikan kontribusi positif bagi kinerja keuangan IATA.
Pada 2018, kinerja perusahaan dengan kode emiten IATA itu cukup tertekan seiring lesunya industri pertambangan yang menjadi pelanggan utama. Selain memberikan tambahan pendapatan IATA, GMF akan menekan biaya reparasi pesawat IATA.
"Dia sudah berdiri sejak 2008. Saya kira market share-nya juga cukup bagus. Di Halim sebagai homebase-nya mereka dan juga sudah pernah banyak kerja sama juga dengan IATA," ucap dia.