Krisis Ekonomi Sri Lanka Makin Parah, Ternyata Ini Penyebabnya

Anggie Ariesta
Krisis ekonomi Sri Lanka makin parah, ternyata ini penyebabnya

KOLOMBO, iNews.id - Krisis ekonomi di Sri Lanka semakin parah. Kemarahan rakyat Sri Lanka terhadap penanganan krisis ekonomi yang dilakukan pemerintah meningkat menjadi kekerasaan pada pekan lalu, di mana ratusan pengunjuk rasa bentrok dengan polisi selama beberapa jam. 

Kekurangan mata uang asing yang parah telah membuat pemerintah Presiden Gotabaya Rajapaksa tidak mempu membayar impor penting, seperti bahan bakar sehingga menyebabkan pemadaman listruk hingga 13 jam. Rakyat Sri Lanka juga menghadapi kekurangan pasokan dan inflasi yang melonjak setelah negara itu secara taham mendevaluasi mata uangnya bulan lalu menjelang pertemuan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mendapatkan pinjaman. 

Para kritikus mengatakan, akar dari krisis ekonomi Sri Lanka, yang merupakan terburuk dalam beberapa dekade terletak pada salah urus ekonomi oleh pemerintah berturut-turut yang menciptakan dan mempertahankan defisit kembar, yakni kekurangan anggaran dan defisit transaksi berjalan. 

"Sri Lanka adalah ekonomi defisit kembar klasik. Defisit kembar menandakan pengeluaran nasional suatu negara melebihi pendapatan nasionalnya, serta produksi barang dan jasa yang dapat diperdagangkan tidak mencukupi," tulis kertas kerja Bank Pembangunan Asia 2019, dikutip dari Indian Express, Selasa (10/5/2022). 

Tetapi krisis saat ini dipercepat oleh pemotongan pajak dalam yang dijanjikan oleh Rajapaksa selama kampanye pemilihan 2019 yang diberlakukan beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19, yang menghapus sebagian ekonomi Sri Lanka. Dengan industri pariwisata yang menguntungkan di negara itu dan pengiriman uang pekerja asing yang dilemahkan oleh pandemi, lembaga pemeringkat kredit menurunkan peringkat Sri Lanka dan secara efektif menguncinya dari pasar modal internasional.

Pada gilirannya, program manajemen utang Sri Lanka, yang bergantung pada akses ke pasar tersebut, tergelincir dan cadangan devisa anjlok hampir 70 persen dalam dua tahun. Adapun keputusan pemerintah Rajapaksa untuk melarang semua pupuk kimia pada 2021 juga memukul sektor pertanian negara itu dan memicu penurunan panen padi yang kritis.

Editor : Jujuk Ernawati
Artikel Terkait
21 jam lalu

APBN Tanggung Utang Kopdes Merah Putih Rp240 Triliun, Purbaya: Cicilan Tak Akan Molor

22 jam lalu

APBN Bayar Cicilan Utang Kopdes Merah Putih Rp40 Triliun per Tahun, Ini Skemanya

1 hari lalu

Kemenkeu Ambil Alih Utang Kereta Cepat Whoosh, Purbaya Pastikan Tak Bebani APBN

1 hari lalu

APBN Tanggung Utang Kopdes Merah Putih Rp240 Triliun, Purbaya: Cicilan Pertama Dibayar September

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal