Luncurkan Buku, Sri Mulyani Ceritakan Sulitnya Jadi Menteri Keuangan

Suparjo Ramalan
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Ist)

Semua aturan itu, kata dia, menjadi pondasi ekonomi modern Indonesia yang dibangun dalam waktu luar biasa singkat oleh presiden Habibie. Dan kemudian oleh presiden selanjutnya harus dilaksanakan.

"Kalau kita lihat dari fenomena itu, hanya dari historical timeline saja itu challenge-nya luar biasa. Bagaimana UU dibuat tanpa kita memikirkan nanti semuanya ketemu enggak, tapi kita harus jalankan karena itu adalah suatu keputusan politik yang sudah legitimate," ujarnya.

Pada awal 2000, lanjut dia, terdapat undang-undang pertama soal surat berharga negara (SBN) karena Indonesia sebelumnya tidak pernah melakukan utang melalui SBN. Sri Mulyani yang saat itu belum memiliki pengalaman dan kapasitas harus melakukan berbagai hal untuk mengelola aturan fiskal.

Kendati demikian, berbagai langkah reformasi yang dilakukan untuk membangun Kementerian Keuangan di dalam spirit kebijakan fiskal yang baru. Di mana, kebijakan yang benar-benar berbedadari masa-masa sebelumnya. Hal itu, kata dia, menjadi hal penting di dalam mereformasi institusi, membangun kapasitas, sekaligus membersihkan reputasi jelek seperti korupsi, inefisiensi dan lain-lain.

"Pada saat kita sibuk menjalankan institusi dan menjalankan undang-undang, jangan lupa at the end fiscal policy is about economic policy, dan ekonomi itu enggak jalan linier dan mulus. Seperti yang terjadi hari ini. Waktu tahun 2004-2009 kita tahu sekali harga minyak yang tadinya 30 dolar AS jadi 100 dolar AS. Subsidi minyak yang tadinya Rp90 triliun menjadi Rp350 triliun. APBN kita goyang, bagaimana kita mengolahnya dan mengelolanya," ujarnya.

Sebagai menteri keuangan beberapa kali, Sri Mulyani mengaku banyak sekali tantangan luar biasa yang harus dia hadapi. Saat menjadi menteri di era Presiden Jokowi, dia harus menghadapi pandemi Covid-19. Setiap masalah selalu baru, sehingga solusinya tak mudah.

"Covid-19 bisa dikatakan extraordinary dan unprecedented, karena presedennya adalah 100 tahun yang lalu, dan saya enggak tahu kebijakan fiskal 100 tahun yang lalu. Yang jelas Indonesia 100 tahun yang lalu masih dalam penjajahan Belanda," ujarnya.

Editor : Rahmat Fiansyah
Artikel Terkait
27 hari lalu

Pramono Bertemu 2 Menteri Singapura, Bahas Investasi hingga Pengembangan Transportasi Publik

30 hari lalu

Prabowo Panggil Purbaya hingga Rosan ke Kertanegara, Ini yang Dibahas

1 bulan lalu

Sultan Brunei Rombak Kabinet, Angkat Putranya Pangeran Abdul Mateen Jadi Menlu

2 bulan lalu

Gibran dan Jan Ethes Salat Iduladha di Masjid Istiqlal, Didampingi Sejumlah Menteri

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal