"Saya heran kok Menteri Ignasius menyampaikan pernyataan tersebut karena menimbulkan berbagai tanggapan tanggapan mengecewakan dari komponen bangsa di Maluku, bahkan tidak sedikit menginginkan melakukan aksi di Kementerian ESDM," kata Zeth.
Sebelumnya, Jonan saat menjadi pembicara di hadapan peserta Kongres HMI XXX di Auditorium Universitas Pattimura, Ambon, Rabu (14/2/2018), menyatakan, PI 10 persen Blok Masela akan dikelola Maluku dan NTT. Blok Masela, kata Jonan, membutuhkan waktu 6-7 tahun, sebelum beroperasi secara normal.
"Masih enam tahun lagi baru bisa menghasilkan gas, jangan kaget," kata Jonan.
Perusahaan minyak Royal-Shell Belanda dan Inpex yang berbasis di Jepang telah mengeluarkan investasi sekitar 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp200 triliun untuk mengembangkan blok gas Masela yang terletak di Laut Timor antara Provinsi NTT dan Maluku.
Investasi di Blok Masela diperkirakan naik sampai 20 miliar dolar AS, karena perusahaan minyak tersebut berusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi gas alam cair di fasilitas abadi terkait untuk 6 juta metrik ton per tahun.
"Kandungan gas di Blok Masela itu sekitar 10 triliun kubik feet. Kementerian ESDM telah meminta Inpex untuk melibatkan masyarakat Maluku dan NTT dalam proses pembangunan Blok Masela. Jadi pemberdayaan masyarakat itu penting," kata Jonan.