Belum lagi, Utayana juga harus memenuhi kebutuhan putra keduanya, Muhammad Nico Fadilah yang masih duduk di bangku kelas XI Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Babakan Assalafie Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, dan putra bungsunya Fauzan Aulia Triana, siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Jihadiyah, Jaksel.
Di saat yang sama, lahan yang disewa Utayana untuk mendirikan warung selama 23 tahun dijual pemiliknya. Pemilik baru membangun rumah di atas lahan tersebut. Praktis, warung kecil milik Utayana harus tutup. Begitu pula sumber pendapatannya.
Setahun berselang, secercah asa muncul. Utayana mendapat tempat baru untuk berjualan tak jauh dari lokasi yang lama. Dia memulai segalanya dari awal untuk membangun kembali warung dan harapannya.
Atas saran dari rekannya, Utayana memberanikan diri mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) melalui PT Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pinjaman yang diajukannya sebesar Rp60 juta.
"Bismillah aja bisa setor, dari nabung hasil warung sedikit-sedikit," tuturnya.
Dana itu digunakan sebagai modal awal untuk menghidupkan lagi usahanya yang sempat terpuruk. Sedikit demi sedikit, warung itu kembali bernyawa.
Dari situlah, pelan-pelan usahanya bangkit. Tidak hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, namun juga menjadi penopang pendidikan ketiga putranya.
"KUR BRI bantu saya bangkit. Bunganya juga rendah, gak memberatkan," ucap Utayana.