Outlook 2023: Begini Jurus RI Hadapi Potensi Menurunnya Ekspor

Michelle Natalia
Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Foto: Ilustrasi/Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Tahun 2023 diramalkan menjadi tahun yang gelap akibat ancaman resesi global. Meningkatnya risiko ketidakpastian global diwaspadai oleh seluruh negara, termasuk Indonesia. 

Meskipun perekonomian Indonesia diprediksi cukup tangguh terutama dari sisi kinerja ekspor yang melesat, tekanan inflasi global yang berkepanjangan di kawasan Eropa dan Amerika Serikat patut diwaspadai.

Apalagi purchasing Managers Index (PMI) manufaktur global sudah mulai berada pada zona kontraksi dalam dua bulan terakhir.

Seperti diketahui, di tengah tren melambatnya perekonomian global, kinerja ekspor Indonesia tercatat secara riil tumbuh 21,6 persen (yoy) di kuartal III 2022, sementara impor tumbuh 23 persen (yoy).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia pada November 2022 kembali mencatat surplus, yakni 5,16 miliar dolar AS. Kinerja positif tersebut melanjutkan surplus neraca perdagangan Indonesia sejak Mei 2020, atau selama 30 bulan berturut-turut.

Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BKPerdag) Kementerian Perdagangan, Kasan, menyebutkan bahwa pemerintah saat ini mewaspadai potensi menurunnya ekspor di tahun 2023 meskipun Indonesia masih berada dalam posisi aman. Terlebih, rilis Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini melaporkan bahwa ekspor Indonesia mulai menunjukkan perlambatan. 

"Inflasi juga otomatis kan menurunkan daya beli. Kita itu kalau inflasi kan daya beli kita jadi berkurang. Kalau daya beli berkurang, demand berkurang juga. Impact-nya tentu akan terhadap potensi dari menurunnya ekspor kita, meski semua negara sekarng juga menghadapi situasi hampir sama," ujar Kasan kepada MNC Portal Indonesia, dikutip di Jakarta, Senin (19/12/2022). 

Dia menyebutkan, laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa trade openness atau keterbukaan perdagangan Indonesia cenderung stagnan, tidak sebesar negara-negara ASEAN. 

"Saya setuju angkanya memang tidak sampai 50 persen, hanya di kisaran 20-30 persen. Artinya, trade itu kan langsung, hubungan keterbukaan dengan luar. Kalaupun di luar itu terjadi penurunan, termasuk dalam trade, otomatis kita terimbasnya tergantung besaran openness itu tadi," ungkap Kasan.

Kasan mengatakan bahwa jika guncangan di luar itu cukup besar, akan cukup besar dampaknya ke negara-negara yang trade opennessnya besar. Adapun negara-negara dengan trade openness besar di atas 50 persen misalnya Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam. 

"Otomatis kalau gangguan di luar terjadi, mereka akan merasakan dampak yang jauh lebih besar. Jadi kita blessingnya di situ, tapi bukan berarti kita diam saja," ungkap Kasan.

Editor : Jeanny Aipassa
Artikel Terkait
Bisnis
21 jam lalu

Ekonom Ungkap Inflasi Januari 2026 Bukan Dipicu Lonjakan Harga, Ini Penjelasannya

Nasional
2 hari lalu

Ekspor RI Naik 6,15 Persen Sepanjang 2025, Industri Pengolahan Jadi Penopang

Nasional
2 hari lalu

RI Deflasi 0,15 Persen di Januari 2026 gegara Makanan-Minuman dan Tembakau

Nasional
6 hari lalu

Pemerintah Siapkan Diskon Transportasi hingga Bansos Beras untuk Jaga Inflasi Jelang Lebaran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal