“Semoga pembangunan ini melahirkan sebuah spirit, ‘Listrik caang, runtah hilang’. Sampah hilang, Jawa Barat terang,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri ESDM mengatakan PSEL Legok Nangka akan menjadi solusi pengelolaan sampah sekaligus menghasilkan energi baru terbarukan bagi Jawa Barat.
Menurutnya, proyek hasil kerja sama dengan perusahaan asal Jepang itu ditargetkan menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja dan menghasilkan listrik berkapasitas 40 megawatt.
“TPPAS Legok Nangka ini akan memecahkan tumpukan sampah di Jawa Barat, memberikan dampak lingkungan yang lebih baik, serta menghasilkan energi bersih dalam bentuk energi baru terbarukan,” ujarnya.
Dia menambahkan, pemerintah menargetkan PSEL Legok Nangka mulai beroperasi secara komersial pada 2029.
Proyek senilai sekitar 400 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp7,2 triliun itu ditargetkan beroperasi pada akhir 2029 setelah masa konstruksi sekitar 41 bulan serta diarahkan menjadi solusi pengelolaan sampah perkotaan. Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 311 ribu ton karbon dioksida ekuivalen.