Salah satu pengembangan utama dalam program Green Terminal Tanjung Sekong adalah integrasi energi terbarukan melalui pemanfaatan energi surya dan rencana penggunaan hidrogen hijau. Pertamina tengah mengembangkan fasilitas produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. di Ulubelu, Lampung, dengan kapasitas produksi hingga sekitar 100 kilogram per hari menggunakan teknologi elektrolisis Anion Exchange Membrane (AEM).
Hidrogen tersebut direncanakan akan dimanfaatkan di Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai bagian dari pengembangan ekosistem hidrogen Pertamina dari hulu hingga hilir. Integrasi energi dari sumber hidrogen hijau tersebut ditujukan untuk meningkatkan porsi pemanfaatan energi terbarukan pada kebutuhan listrik terminal.
Agung menambahkan, bahwa penerapan standar Green Terminal pada fasilitas penyimpanan dan penanganan LPG dapat menjadi referensi bagi pengembangan terminal minyak, gas, LNG, dan LPG lainnya, khususnya di lingkungan Pertamina Group.
Pertamina menargetkan enam fasilitas terminalnya juga memperoleh Green Terminal Label di masa depan, di antaranya Terminal LPG Tuban, Fuel Terminal Baubau, Fuel Terminal Kotabaru, dan Integrated Terminal Tanjung Uban.
"Kami ingin mereplikasi konsep Green Terminal ini ke terminal-terminal lainnya sehingga semakin banyak fasilitas Pertamina yang beroperasi dengan prinsip keberlanjutan. Keunggulan Pertamina sebagai perusahaan energi yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir menjadi modal utama dalam mempercepat transisi energi. Sehingga ini menjadi sesuatu yang menjadi nilai tambah, keunikan, kekhasan Pertamina sehingga sustainability tadi bisa dicapai, dan dengan kolaborasi antar perusahaan semua bisa dicapai," tuturnya.
Terminal LPG Tanjung Sekong berlokasi di Cilegon, Banten, dan berperan sebagai salah satu pusat energi strategis yang mendukung penerimaan, penyimpanan, serta distribusi LPG kepada masyarakat dan industri. Terminal tersebut memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 98.000 MT (Metrik Ton) atau 196.000 CBM (Cubic Meter), atau setara dengan 35-40 % kebutuhan LPG Nasional dengan fasilitas jetty yang dapat melayani kapal berkapasitas sekitar 3.500 hingga 65.000 DWT (Deadweight Tonnage).
Proses sertifikasi sendiri dimulai sejak kick-off pada 11 Februari 2026, dilanjutkan dengan gap assessment and refreshment workshop, audit awal, serta audit final pada Juli 2026. Hasil audit final menunjukkan Terminal LPG Tanjung Sekong mendapatkan skor 78,86 persen dan mengantarkannya memperoleh predikat Bintang 2 dari maksimal Bintang 3.