Setelah tiba di Makassar, Eka Tjipta Widjaja dan orang tuanya tinggal di sebuah rumah dengan dinding bambu dan atap daun rumbia. Untuk bertahan hidup, sang ayah membuka usaha kecil-kecilan berupa toko sederhana, dan dia membantu dalam kegiatan dagangan.
Strategi penjualan Eka Tjipta Widjaja yang masih kecil pada saat itu cukup unik, yaitu menggunakan metode 'jemput bola' untuk menjual barang dagangan langsung ke rumah-rumah konsumen. Namun, dia tidak puas hanya menjadi pengawas toko.
Eka Tjipta Widjaja muda menjual barang-barang dagangan keliling kota Makassar dengan menggunakan sepeda. Dia menjajakan permen, biskuit, dan berbagai barang dagangan lainnya dari pintu ke pintu. Inilah awal dari perjalanan bisnis sang Pendiri Sinar Mas.
Ketekunan, kerja keras, dan kesabaran Eka Tjipta Widjaja muda akhirnya membuahkan hasil. Tabungan yang berhasil dikumpulkannya dari hasil penjualan membantu dalam merenovasi rumah orang tuanya. Akhirnya, Eka Tjipta Widjaja muda dapat membeli becak untuk mengangkut barang dagangannya.
Setelah membuka toko kelontong grosir pada tahun 1949, Eka Tjipta Widjaja mulai memperluas bisnisnya ke sektor-sektor besar seperti kopra, kelapa sawit, dan kertas. Meski mengalami kegagalan dalam bisnis kopra, semangatnya dalam mengembangkan bisnis tidak pernah luntur.