Presiden Amerika Serikat, Joe Biden. (Foto: Reuters)
Anggie Ariesta

JAKARTA, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, akan membahas sanksi terhadapa Rusia dengan para pemimpin negara-negara maju Group of Seven atau G7, pada pekan ini. 

Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi dunia di tengah penerapan sanksi Barat terhadap Rusia. Tak tertutup kemungkinan, pertemuan pemimpin G7 juga akan membahas sanksi tambahan atas agresi militer yang semakin intensif dilancarkan Rusia ke Ukraina.

“Kami selalu terbuka untuk sanksi tambahan ketika ditanya tentang rencana AS setelah Uni Eropa mengusulkan sanksi terberatnya terhadap Rusia, termasuk embargo minyak bertahap. Saya akan berbicara dengan anggota G7 minggu ini tentang apa yang akan kami lakukan atau tidak lakukan,” ujar Biden, pada Kamis (4/5/2022) waktu setempat.

Menteri Keuangan (Menkeu) AS, Janet Yellen, mengatakan AS terus berdiskusi dengan mitranya tentang sanksi lebih lanjut dan dapat mengambil "tindakan tambahan" untuk menekan Moskow.

Menurut dia, AS tidak akan meninjau tindakan spesifik apa pun yang sedang dipertimbangkan, tetapi menekankan bahwa tindakan lebih lanjut mungkin dilakukan jika Rusia melanjutkan perang ini melawan Ukraina.

Yellen mengungkapkan, sangat yakin sanksi Barat telah berdampak besar pada ekonomi Rusia, membatasi investasi asing dan mencegahnya mengakses barang-barang yang dibutuhkannya untuk bersaing dalam ekonomi global dalam jangka panjang.

Dia juga dorongan UE untuk memotong impor minyak Rusia tahun ini dapat mendorong harga minyak lebih tinggi, dan mengatakan dia perlu melihat bagaimana tepatnya hal itu harus dicapai.

Yellen menambahkan, AS akan bekerja sama dengan Eropa untuk memastikan negara-negara di sana memiliki pasokan yang mereka butuhkan.

Gedung Putih menolak mengatakan kapan Biden akan berbicara dengan para pemimpin negara-negara G7 lainnya, yakni Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Kanada, dan Italia.

Sekretaris pers Gedung Putih, Jen Psaki, juga menolak menyebutkan nama oligarki potensial yang dapat ditambahkan ke daftar sanksi AS, tetapi mengatakan Amerika Serikat terus meninjau opsinya.

"Saya akan mengatakan, tidak ada yang aman dari sanksi kami," kata Jen Psaki.

Rusia telah mengintensifkan serangannya di Ukraina timur, Kementerian Pertahanan Ukraina mengatakan pada hari Rabu, hampir 10 minggu memasuki perang yang telah menewaskan ribuan orang, mencabut jutaan dan meratakan kota-kota Ukraina.

Rusia yang menyebut tindakannya sebagai operasi militer khusus, juga meningkatkan serangan terhadap sasaran di Ukraina barat, dengan mengatakan itu mengganggu pengiriman senjata Barat, dan sekutu dekat Rusia Belarus mengumumkan latihan militer skala besar.

Langkah-langkah baru yang diumumkan oleh Uni Eropa termasuk sanksi terhadap bank top Rusia dan larangan penyiaran Rusia dari gelombang udara Eropa, serta embargo minyak mentah dalam enam bulan.

Biden telah mendorong Rusia atas "kejahatan perang besar" yang dilakukan di Ukraina, dan telah menggarisbawahi tekadnya untuk meminta pertanggungjawaban Moskow atas peluncuran perang darat terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

Adapun Washington telah menargetkan bank dan elit Rusia dengan serangkaian sanksi, termasuk langkah bulan lalu yang melarang orang Amerika berinvestasi di Rusia.

Sebelumnya, AS juga telah melarang minyak Rusia dan impor energi lainnya sebagai pembalasan atas invasi Moskow ke Ukraina, tetapi sebagian besar telah membebaskan transaksi energi dari sanksi keuangannya untuk menghindari secara tidak langsung memukul importir Eropa.


Editor : Jeanny Aipassa

BERITA TERKAIT