Namun, setelah hampir tiga tahun berjalan bisnis tersebut tak mengalami kemajuan sama sekali. Tak ada peningkatan penjualan sama sekali, bahkan terkadang mengalami kerugian. Justru akibat buruknya manajemen mereka saat itu, bisnis bakso itu berakhir bangkrut.
Rizka dan suaminya yang mengalami krisis finansial saat itu sampai harus menjual sebagian harta bendanya demi melunasi utang-utang dan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Keduanya tidak bisa membayar cicilan rumah selama empat bulan sampai mengalami penyitaan.
Belajar dari kesalahan, akhirnya mereka mulai memikirkan kembali untuk merintis usaha baru. Suatu saat, Rizka terpikir ramainya pengunjung Kota Bogor bisa menjadi sumber penghasilan. Dia terpikir untuk menjual oleh-oleh untuk para pengunjung tersebut.
Bogor yang terkenal akan talasnya menjadi inspirasi Rizka untuk membuat kuliner berbahan dasar talas, hingga lahirlah lapis talas Bogor. Di kampung halaman Rizka sendiri ada lapis Surabaya, hal ini juga menjadi sumber ide Rizka untuk menciptakan lapis Bogor.
Bermodalkan uang sebesar Rp500.000, serta meminjam alat pembuat kue dari mertua, Rizka bersama suami mulai merintis usaha lapis talas Bogor.