"Ke depan, Inalum, Antam, dan Chinalco akan membentuk perusahaan patungan (joint venture) untuk mendukung terealisasinya proyek ini," kata Budi.
Sebagai informasi, saat ini cadangan bauksit Indonesia adalah terbesar ke-8 di dunia sedangkan nilai ekspornya tercatat peringkat kedua terbesar. Mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri TBk ini mengatakan, hingga saat ini Indonesia belum memiliki pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina sehingga seluruh bijih bauksit diekspor ke luar negeri seperti Jepang dan China.
Sementara, alumina sebagai bahan baku untuk pembuatan aluminium justru harus diimpor oleh Inalum dari negara lain seperti Australia, Cina, dan India. Pembangunan proyek smelter, kata Budi, diharapkan bisa meningkatkan nilai tambah produk tambang Indonesia, mengurangi impor alumina, menciptakan lapangan kerja baru, serta berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah.