Ilustrasi harga minyak dunia. (Foto: Istimewa)
Jeanny Aipassa

NEW YORK, iNews.id - Harga minyak mentah naik sekitar 3 persen ke level tertinggi dalam dua bulan, pada akhir perdagangan Kamis (26/5/2022) atau Jumat pagi WIB. 

Setelah naik selama enam hari berturut-turut, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli naik 3,37 dolar AS atau 3,0 persen, menjadi 117,40 dolar AS per barel. Angka tersebut, merupakan level tertinggi sejak 25 Maret 2022. 

Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melonjak 3,76 dolar AS atau 3,4 persen ditutup di 114,09 dolar AS per barel. Angka tersebut, merupakan level tertinggi sejak 16 Mei 2022.

Kenaikan harga minyak mentah terjadi seiring pasokan yang terbatas menjelang musim panas di Amerika Serikat, dan perselisihan Uni Eropa (UE) dengan Hungaria terkait larangan impor minyak Rusia sebagai sanksi atas invasi negara itu ke Ukraina.

Pedagang juga mencatat kenaikan harga minyak mengikuti kenaikan ekuitas dan melemahnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, yang membuat minyak lebih murah ketika dibeli dalam mata uang lain.

"Harga minyak mentah naik karena pasar minyak yang ketat akan tetap ada mengingat AS akan menjaga persediaan menjelang musim panas, sehingga pasokan ke pasar dunia akan berkurang," kata Edward Moya, analis pasar senior di perusahaan data dan analitik OANDA, seperti dikutip Reuters, Jumat (27/5/2022).

Sementara Tamas Varga dari PVM Oil, mengatakan secara fundamental, kenaikan harga minyak mentah juga terjadi akibat perdebatan soal sanksi Uni Eropa terhadap penjualan minyak Rusia. 

Presiden Dewan Eropa Charles Michel mengatakan dia yakin kesepakatan dapat dicapai sebelum pertemuan dewan berikutnya pada 30 Mei 2022. Hungaria tetap menjadi batu sandungan, karena sanksi Uni Eropa membutuhkan dukungan bulat. Hungaria mendesak sekitar 750 juta euro (800 juta dolar AS) untuk meningkatkan kilangnya dan memperluas jaringan pipa dari Kroasia.

Bahkan tanpa larangan resmi, lebih sedikit minyak Rusia yang tersedia karena pembeli dan perusahaan-perusahaan dagang telah menghindari pemasok dari negara tersebut.

Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, mengatakan produksi minyak Rusia akan turun menjadi 480-500 juta ton tahun ini, dari 524 juta ton pada 2021. 

OPEC+ bertemu pada 2 Juni dan diperkirakan akan tetap pada kesepakatan tahun lalu untuk menaikkan target produksi Juli sebesar 432.000 barel per hari. Enam sumber OPEC+ mengatakan kepada Reuters, mereka menolak seruan Barat untuk peningkatan yang lebih cepat guna mengendalikan harga.

Faktor lainnya adalah peningkatan permintaan dari China yang mulai kembali membuka sejumlah kota yang sebelumnya ditutup unruk menghindari penyebaran Covid-19 gelombang ketiga. 

"Shanghai sedang bersiap untuk dibuka kembali setelah penguncian selama dua bulan, sementara puncak musim mengemudi di AS dimulai dengan akhir pekan Memorial Day," kata Sugandha Sachdeva, wakil presiden penelitian komoditas di Religare Broking. Amerika Serikat merayakan Memorial Day pada Senin (30/5/2022).

Pemerintah AS telah menyita kargo minyak Iran yang disimpan di kapal yang dioperasikan Rusia di dekat Yunani dan akan mengirim kargo ke Amerika Serikat dengan kapal lain.

Sementara itu, Inggris mengumumkan pajak tak terduga 25 persen atas keuntungan produsen minyak dan gas, di samping paket dukungan 15 miliar pound (18,9 miliar dolar AS) untuk rumah tangga yang berjuang untuk membayar tagihan energi.

Hungaria mengumumkan windfall taxes (pajak rejeki nomplok) baru senilai 800 miliar forint (2,19 miliar dolar AS) atas "keuntungan ekstra" yang diperoleh bank, perusahaan energi, dan perusahaan lain.


Editor : Jeanny Aipassa

BERITA TERKAIT