Sebagai destinasi wisata populer di Jakarta, Monas juga memiliki peran dalam mendukung penerimaan daerah melalui sistem retribusi.
Pengunjung yang ingin masuk ke kawasan tertentu, museum, atau pelataran puncak dikenakan tarif yang relatif terjangkau. Dana yang diperoleh dari retribusi tersebut menjadi bagian dari pendapatan daerah yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Morris Danny menegaskan, penerimaan ini kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pembangunan kota, seperti pemeliharaan fasilitas publik, peningkatan infrastruktur, serta pengembangan layanan yang menunjang kenyamanan masyarakat.
“Dengan demikian, aktivitas wisata yang berlangsung di kawasan Monas secara tidak langsung turut mendukung pembiayaan berbagai program layanan publik di Jakarta,” ucapnya.
Hingga kini, Monas tetap memegang peran penting dalam kehidupan kota Jakarta. Selain menjadi simbol perjuangan bangsa, kawasan ini juga berfungsi sebagai ruang terbuka yang dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan.
Perpaduan antara fungsi historis, edukatif, dan sosial membuat Monas menjadi salah satu ruang kota yang memiliki nilai strategis. Kehadirannya tidak hanya mengingatkan masyarakat pada sejarah kemerdekaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pengelolaan kota melalui sektor pariwisata.
“Dari kawasan inilah warisan sejarah, aktivitas publik, dan kontribusi ekonomi bertemu dalam satu ruang yang sama. Monas pun terus berdiri sebagai pengingat perjalanan bangsa sekaligus bagian dari dinamika pembangunan Jakarta,” kata Morris Danny.