Dari sisi sentimen domestik, pasar merespon negatif dari rilis Bank Dunia, dalam Global Economic Prospects January 2024 memperkirakan ekonomi global akan melambat ke 2,4 persen pada tahun ini dibandingkan 2,6 persen pada 2023. Sedangkan, ekonomi dunia diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 2,7 persen pada 2025, proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan pada Juni lalu yakni 3,0 persen.
Pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,6 persen pada 2023 juga akan menjadi yang terendah dalam 50 tahun, di luar resesi global saat pandemi. Bank Dunia juga menyebut ini adalah kali pertama mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi terus melandai selama tiga tahun beruntun.
Selain itu, Bank Dunia juga mengingatkan adanya risiko besar untuk pertumbuhan ke depan dari konflik di Timur Tengah, gangguan di pasar komoditas, mahalnya ongkos pinjaman, bengkaknya utang, melandainya ekonomi China, inflasi yang masih tinggi, serta perubahan iklim yang ekstrim.
Sementara untuk Indonesia, Bank Dunia mempertahankan proyeksi pertumbuhan untuk tahun ini di angka 4,9 persen. Namun, mereka memangkas proyeksi 2025 menjadi 4,9 persen, dari 5,0 persen pada proyeksi Juni lalu. Proyeksi bank dunia tidak sejalan dari proyeksi pemerintah sebesar 5,2 persen.
Salah satu dampak sulitnya pertumbuhan ekonomi 2024 di 5,2 persen adalah Indonesia tidak akan lagi mendapat berkah dari lonjakan harga komoditas untuk tahun ini dan tahun depan sehingga akan berpengaruh terhadap ekspor impor serta melandainya ekonomi China salah satu mitra bisnis terbesarnya.
Berdasarkan data di atas, mata uang rupiah hari ini melemah, selanjutnya untuk perdagangan besok diprediksi bergerak fluktuatif dan kemudian ditutup lanjutkan pelemahan pada rentang Rp15.550-Rp15.600.