Salah satu pedagang yang merasakan perubahan besar tersebut adalah Jalaludin, penjual bubur ayam asal Cianjur yang setiap hari mangkal di sekitar Stasiun Gondangdia. Dia kini melayani pembayaran menggunakan barcode QRIS BRI yang ditempel di gerobaknya.
“Sudah bisa pakai QRIS di sini ini, ya QRIS BRI,” kata Jalaludin.
Setiap hari, Jalaludin mampu menjual sekitar 100 hingga 150 porsi bubur ayam seharga Rp12.000 per mangkuk. Menurut dia, transaksi digital membuat pelayanan kepada pelanggan menjadi jauh lebih cepat.
“Sekarang jadi lebih gampang kalau pakai QRIS, kan tinggal scan saya, nggak ribet. Terus juga enggak perlu menyiapkan uang kembalian,” ujarnya.
Tidak hanya membantu pembeli, QRIS BRI juga memudahkan Jalaludin mengelola hasil penjualan. Semua transaksi otomatis tercatat melalui layanan BRIMerchant sehingga dia tidak perlu lagi mencatat pemasukan secara manual.
“Enaknya sekarang kalau QRIS bisa dilihat hasilnya nanti kalau sudah di rumah. Lebih praktis sih jadi nggak perlu repot mencatat lagi,” kata Jalaludin.