The Fed pastikan Kkenaikan suku bunga berlanjut, Wall Street anjlok lebih dari 3 persen. Foto: Reuters
Dinar Fitra Maghiszha

NEW YORK, iNews.id - Wall Street anjlok pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, dengan tiga indeks acuan tergerus lebih dari 3 persen. Hal ini merespons pidato Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell yang menegaskan bakal terus menaikkan suku bunga untuk meredam gejolak inflasi.

Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 1.008,38 poin atau 3,03 persen di 32.283,40, S&P 500 (SPX) kehilangan 141,46 poin atau 3,37 persen di 4.057,66, sedangkan Nasdaq Composite (IXIC) terkapar 497,56 poin atau 3,94 persen di 12.141,71.

Seluruh 11 sektor utama di S&P 500 mengalami penurunan, dipimpin indeks teknologi informasi (SPLRCT), layanan komunikasi (SPLRCL) dan consumer (SPLRCD) yang tertekan antara 3,9 persen hingga 4,3 persen.

Sejumlah saham teknologi big caps tampak terlibat dalam kemerosotan ini, antara lain Nvidia Corp dan Amazon.com Inc yang masing-masing turun 9,2 persen dan 4,8 persen. Sementara itu, induk Google Alphabet Inc (GOOGL.O), Meta Platforms Inc, dan Block Inc (SQ.N) juga turun antara 4,1 persen dan 7,7 persen.

Nasdaq memimpin penurunan terbesar di antara tiga indeks tersebut. Ini membuat kinerja hariannya menjadi yang terburuk sejak 16 Juni 2022, terbebani oleh saham teknologi yang akhirnya jatuh setelah reli di hari sebelumnya.

Mengutip Reuters, Sabtu (27/8/2022), aksi jual investor terjadi setelah pidato Gubernur Fed Jerome Powell dalam Simposium Ekonomi di Jackson Hole, Wyoming, AS. Powell menegaskan, AS membutuhkan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk beberapa waktu ke depan sebelum inflasi benar-benar terkendali.

"Tingkat suku bunga yang lebih tinggi, pertumbuhan yang lebih lambat, dan kondisi pasar tenaga kerja lebih lemah akan menurunkan inflasi, hal itu juga dapat membawa penderitaan bagi (sektor) rumah tangga dan bisnis. Ini adalah kebijakan yang tidak menguntungkan demi mengurangi inflasi," kata Powell dalam pidatonya, dikutip di situs resmi Federal Reserve.

Kendati inflasi AS sempat menyusut di Juli, Powell memastikan fokus Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) adalah mengembalikan inflasi sesuai dengan target mereka sebesar 2 persen. Menurutnya, stabilitas harga adalah harga mati dari sebuah landasan ekonomi.

"Tanpa stabilitas harga, ekonomi tidak akan bekerja untuk siapa pun. Secara khusus, tanpa stabilitas harga, kita tidak akan mencapai periode berkelanjutan yang menguntungkan semua pihak," ujarnya.

Sebelumnya, pasar memprediksi Fed masih akan menaikkan suku bunga lebih lanjut sebesar 50 hingga 75 basis poin pada bulan depan. Analis menilai pasar perlu mencermati dampak lebih lanjut atas peluang kebijakan tersebut.

"Tekanan terjadi bukan hanya terkait laju kenaikan suku bunga ke depan dan bagaimana Fed memperketat kondisi keuangan, tetapi ini adalah soal dampaknya dari kebijakan itu," ucap analis dari Natixis Investment Managers Garrett Melson.


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT