Wamen BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, saham Garuda Indonesia bakal delisting jika pailit. 
Suparjo Ramalan

JAKARTA, iNews.id - Wakil Menteri (Wamen) BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, hal yang akan membuat saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dihapus dari pencatatan saham (delisting). Menurutnya, jika proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) perseroan berakhir pailit

Namun dia optimistis proses PKPU yang dijalankan Garuda di Pengadilan Niaga Pengadilan Jakarta Pusat akan berakhir dengan homologasi atau pengesahan perdamaian.

"Ya itu (delisting) kalau kepailitan, PKPU arahnya homologasi. Bursa kalau memang dirasa tidak ideal, ya bisa saja delisting. Tapi kan kami meyakini setelah proses homologasi bisa disehatkan lagi," kata Kartika saat ditemui di kawasan kantor IFG, Rabu (22/12/2021). 

Kementerian BUMN selaku pemegang saham optimistis keuangan Garuda mulai membaik pada tahun depan. Pemegang saham menargetkan proses PKPU bisa dilakukan dalam waktu 180 hari. Target waktu itu lebih singkat daripada yang ditetapkan Pengadilan Niaga, yakni maksimum 270 hari. 

"Kalau PKPU maksimum 270 hari, kita akan dorong bahkan kalau bisa kita selesaikan 180 hari sampai tengah tahun," ujarnya. 

Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya merilis peringatan penghapusan saham Garuda dari bursa saham Indonesia. Peringatan BEI dipublikasi di papan utama dengan Nomor Peng-00024/BEI.PP2/12-2021. Lalu, Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (delisting) dan Pencatatan Kembali (delisting) Saham di Bursa.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, perseroan tetap memberikan perhatian penuh terhadap hal tersebut. Karena itu, manajemen fokus melakukan upaya terbaik dalam percepatan pemulihan kinerja melalui proses PKPU. 

Dia berharap dapat menghasilkan kesepakatan terbaik dalam penyelesaian kewajiban usaha, sehingga nantinya saham Garuda dapat kembali diperdagangkan seperti sedia kala.

"Dapat kami sampaikan bahwa Garuda Indonesia terus memberikan perhatian penuh terhadap hal tersebut (delisting)," ucap Irfan. 

Sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh BEI, delisting saham dilakukan setelah suspensi saham berlangsung sekurang-kurangnya 24 bulan dari waktu pengumuman suspensi. Adapun saham Garuda Indonesia saat ini telah disuspensi selama 6 bulan berkaitan dengan penundaan pembayaran kupon sukuk. 

"Oleh karenanya, lebih lanjut kami akan mengoptimalkan momentum PKPU dalam mengakselerasikan langkah pemulihan kinerja guna menjadikan Garuda Indonesia sebagai perusahaan yang lebih sehat, agile dan berdaya saing," kata dia.


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT