WASHINGTON, iNews.id - Presiden Bank Dunia David Malpass mendesak para pejabat keuangan dari kelompok 20 negara (G20) untuk memperpanjang penangguhan pembayaran utang oleh negara-negara termiskin hingga akhir 2021 serta memperluas ruang lingkup penanganan pandemi global Covid-19
Malpass menyampaikan hal itu dalam sambutannya, di hadapan pertemuan para menteri keuangan G20 dan para gubernur bank sentral pada Sabtu (18/7/2020). Dia menyebut, virus dan resesi di seluruh dunia akan menyebabkan meningkatnya kemiskinan di negara-negara miskin, dan beban utang untuk beberapa negara meningkat ke level krisis.
"Situasi di negara-negara miskin dan berkembang semakin putus asa. Waktu pemenuhan kewajiban bagi mereka juga terbilang singkat, kita perlu mengambil tindakan cepat dalam upaya penangguhan utang ini. Serta juga diperlukan pengurangan utang, mekanisme penyelesaian utang yang baik dan transparan,” ujar Malpass dikutip dari Bloomberg Minggu (19/7/2020).
Dia juga menyerukan pengurangan utang di tengah kondisi ekonomi saat ini yang terus membuat negara-negara termiskin terbebani atas utang mereka. Sebelumnya, dalam perjanjian G20 pada April lau, negara anggota bermaksud menghapuskan sekitar 12 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) (Rp177,56 triliun) pembayaran utang bilateral dari negara-negara yang rentan terdampak parah akibat pandemi corona.
Malpass juga mendorong adanya transparansi oleh semua kreditur bilateral resmi, dalam menjalankan inisiatif penangguhan layanan hutang yang sebenarnya sudah dimulai pada Mei lalu, dan akan terus berjalan sampai akhir tahun ini. Bank Dunia juga menyoroti perlunya partisipasi penuh oleh China Development Bank (CDB).
Bank Dunia sendiri memperkirakan, bahwa output pasar negara berkembang akan menyusut drastis untuk pertama kalinya dalam setidaknya enam dekade, di tengah jumlah kasus Covid-19 yang terus meningkat di banyak negara.