Merespons efektivitas intervensi moneter dalam menahan kejatuhan nilai tukar rupiah, Irman memandang bahwa jajaran BI sebenarnya telah mengerahkan seluruh instrumen bauran kebijakan (policy mix) yang dimilikinya secara intensif.
Namun, stabilitas kurs tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan satu lini (single wing), melainkan membutuhkan topangan kuat dari kebijakan fiskal pemerintah.
"Sebenarnya kebijakan yang dilakukan sudah ditempuh semua tapi memang tentu dalam bauran kebijakan tidak bisa satu wing saja yang bergerak tetapi juga harus dua-duanya, dari fiskal juga harus berbenah. Dan kita lihat sudah mengarah ke situ," jelas Irman.
Irman menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk tetap disiplin dan patuh terhadap batas-batas koridor pengelolaan negara yang menjadi perhatian utama para investor asing. Sebab,bBeberapa indikator penting tersebut mencakup penjagaan batas defisit fiskal APBN serta keberhasilan eksekusi dari draf transformasi kebijakan ekonomi makro.
“Mulai dari defisit fiskal, kemudian eksekusi dari transformasi kebijakan seperti pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia dan lain-lain itu eksekusinya harus baik karena sentimennya cukup positif tapi akan tergantung ke depannya dengan bagaimana eksekusinya," pungkas Irman.