Sementara itu, Kritik tajam datang dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). INDEF memproyeksi pertumbuhan ekonomi RI berada di angka 5,0 persen, yang dinilai jauh dari target ambisius pemerintah dalam APBN.
Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti menilai ekonomi Indonesia masih terlalu sensitif terhadap gejolak dunia luar akibat ketergantungan impor yang tinggi pada kebutuhan dasar.
"Nah, kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi ini kan meleset terus ya dari target yang sudah ditetapkan oleh APBN gitu ya. Kenapa fundamental ekonomi kita itu relatif rentan? Ya, karena ketergantungan kita terhadap dunia luar ini tinggi gitu," ucap Esther.
Esther mengibaratkan ekonomi Indonesia sangat mudah tertular dampak negatif dari situasi global dibandingkan negara tetangga yang memiliki fundamental lebih kokoh.
"Ada terjadi batuk-batuk di ekonomi global, maka kita pun juga akan terdampak ya, batuk-batuk juga," sambungnya.
Pencapaian ekonomi di tahun 2026 diprediksi akan sangat bergantung pada seberapa efektif pemerintah melakukan transformasi struktural dan menjaga kestabilan harga energi serta pangan di tingkat domestik.