Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh Stabil 5% di 2026, Daya Beli Jadi Sorotan
"Konsumsi membaik seiring dukungan kebijakan pemerintah dan biaya pinjaman yang lebih ringan, sementara investasi didorong proyek bangunan serta ekspansi dunia usaha yang mulai pulih ketika suku bunga menurun," ucap Josua.
Di sisi lain, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi bersikap lebih konservatif dengan prediksi di angka 5 persen. Ia menilai angka tersebut merupakan batas kewajaran mengingat kondisi daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.
"Tak jauh-jauh 5 persen, angka yang wajar untuk pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2026, meskipun proyeksi tersebut menunjukkan stabilitas perekonomian domestik," kata Ibrahim.
Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh terlena hanya dengan mengandalkan konsumsi rumah tangga, melainkan harus mendorong investasi produktif untuk menciptakan lapangan kerja. Ibrahim juga menyoroti risiko eksternal yang masih membayangi.
"Mengingat perkembangan geopolitik global dan dinamika fragmentasi perdagangan internasional masih sulit diprediksi. Sementara itu, pemulihan ekonomi domestik Indonesia masih belum maksimal karena tekanan harga komoditas pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih," imbuh Ibrahim.